Bangka-Belitung Trip #1: Mie Bangka, Lempa, dan Afuk

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga.    Matahari belum menampakkan cahayanya waktu itu, tapi kami: @arimargiono, @shillach dan @dody_rochadi, dengan penuh semangat melangkahkan kaki, berangkat menuju pulau Bangka dan pulau Belitung.  Lima puluh menit lamanya kami terbang dari Bandara Soetta menuju kota Pangkal Pinang.

IMG_7109

Tiba di pulau Bangka, tujuan kami hanya satu: menikmati Mie Bangka yang kesohor.  Atas jasa baik kawan kami, @inistephanie, sang pengemudi yang sudah diberi instruksi lengkap pun langsung membawa kami menuju kedai Mie yang paling nikmat di pulau bekas propinsi Sumatera Selatan ini.

Kedainya berada dekat pasar Ramayana; semua orang di Bangka pasti tahu tempat ini.  Konon, pasar ini begitu happening hingga bisa ramai sampai jam 2 pagi!

Nah, kedai Mie yang sangat terkenal ini tampak sederhana.  Tapi ya biasanya memang begitu, yang sederhana itu justru yang enak.  Malah, beberapa teman punya prinsip: “the dirtier, the better”.

Karena belum sarapan dan perut yang keroncongan betul-betul mendera kami sepanjang perjalanan, kontan kami pun memesan mie komplitnya, lengkap dengan baso, babat, dan pangsit.

IMG_7123

Ahh, luar biasa nikmatnya.  Yang menjadikan mie ini berbeda dan nikmat adalah topping jeruk kunci khas pulau Bangka yang disajikan hampir di setiap restoran sebagai side dish. Sesuai selera, kita bisa secara generous mengucurkan air jeruk kunci ini ke setiap hidangan yang disajikan di pulau Bangka, mulai dari mie, hingga ikan bakar.

Konon jeruk kunci ini hanya ada di pulau Bangka.

IMG_7120

Disaat kami tengah menyantap Mie yang luar biasa nikmatnya ini, mata @shillach terpaku pada kuali besar yang tengah diaduk.  Dari tempat kami duduk, hanya bongkahan besar-besar yang terendam dalam kuah berwarna merah cabai yang terlihat.  @shillach berdiri dan langsung bertanya pada empunya kedai.

Ternyata hidangan yang tengah dipersiapkan adalah Lempa Tulang dan Kikil.   Kami langsung memesan satu mangkuk.  “Enak kok”, kata yang punya restoran.

IMG_7121

Karena mie saya belum habis, saya hanya menyeruput sesendok kuah lempa ini.  Sluurp.  Luar biasa nikmatnya!  Rasanya seperti sajian asam-pade di restoran Padang, namun dengan kuah yang banyak.  Dimakan dengan nasi panas, hidangan ini akan benar-benar membuat kita ketagihan!

Rasa lapar seketika hilang terpuaskan oleh hidangan luar biasa di pulau yang hampir 30 persen penduduknya adalah warga keturunan Tionghoa ini.

Tak mengherankan jika sasaran wisata kuliner kami berikutnya adalah restoran chinese food yang nomor wahid di Pangkal Pinang.   Konon, semua koki restoran chinese di kota ini adalah lulusan dari restoran ini.  Nama restorannya adalah Fuk Sin, atau dikenal juga sebagai restoran Afuk.

photo

Sepintas lalu restorannya memang tidak meyakinkan.  Tempatnya seperti tidak sedang buka, mejanya kotor dan berdebu.  Samasekali tidak mencerminkan restoran yang ramah pada pengunjungnya.

Pelayannya pun juga membingungkan.   @dody_rochadi hendak memesan “baby kailan”.  Dijawabnya: “nggak ada, adanya babi hong”.  Nah lo!

Tapi ternyata rasa masakannya luar biasa.  @arimargiono memesan ikan kerapu tim yang benar-benar lezat.  @dody_rochadi dan @shillach menikmati fu yong hai kepiting yang benar-benar berbeda: tebal dan penuh dengan cingkong (daging capit) kepiting.

Pingsan rasanya.  Pingsan karena diliputi rasa nikmat.

Dani, Penjara, dan Laksa LP Wanita Tangerang

Jika betul Dani adalah salah satu pelaku bom bunuh diri di kawasan Mega Kuningan beberapa waktu yang lalu, maka ini adalah kenyataan yang sangat memprihatinkan.

Ia masih berusia dibawah 20 tahun!

Yang sesungguhnya keji adalah yang mempengaruhinya untuk melakukan tindakan itu.  Seorang remaja, memang mungkin tertantang dengan aktivitas yang berbau ‘jagoan’.  Ada adrenalin rush.

Kadang saya tidak habis pikir.  Apa yang ada di benak yang bersangkutan hingga ia tega membiarkan orang lain rela untuk membuang nyawanya untuk sebuah sebab yang absurd.

Bukan hanya penjara yang layak buat orang tersebut.   Tapi mungkin hukuman mati.

Nah, bicara soal penjara, beberapa waktu yang lalu, saya menikmati sebuah hidangan tradisional yang berada di depan sebuah penjara.  LP Wanita di Tangerang.

Hidangan tersebut begitu unik, hingga saya pun jadi ketagihan.

Di depan LP Wanita tersebut, ada banyak kios tradisional yang menjual laksa khas kota ini.  Laksa yang dijual disana rupanya berbeda dengan laksa kebanyakan yang kita kenal.  Hidangan laksa yang biasa kita kenal menggunakan santan dan mie gandum.

IMG_4842

Laksa Tangerang menggunakan kunyit dan kencur.  Rasa kuahnya jadi unik.  Ada sensasi tajam di lidah – akibat rasa kencur yang mendominasi dalam setiap porsi kuahnya.  Laksanya pun juga dibuat dari tepung beras.  Seperti bihun, tetapi tebal. Mengenyangkan.

IMG_4849

Laksa ini biasanya disajikan dengan lontong dan sepotong ayam goreng.  Cocok untuk sarapan.   Bila ingin, anda bisa memesan ati ampela yang gurih sebagai topping-nya.

Ayo, tunggu apa lagi?

“Amok in Cambodia”

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi Siam Riep.  Sebuah kota wisata wilayah utara Kamboja.  Kota ini terkenal karena keberadaan Angkor Wat yang kesohor.  Kompleks candi ini memang luar biasa luasnya.  Kaki jadi pegal ketika kita harus berjalan dari satu situs ke tempat yang lainnya.

angkor1

Negeri Kamboja memang merupakan tempat yang memiliki hubungan historis dengan tanah Jawa.   Konon, Raja Jayavarman, yang mendirikan Angkor Wat, sebelumnya ‘nyantri’ dulu di Jawa Tengah atau, pada saat itu, Kerajaan Mataram.

Rupanya, ia membawa paham sinkretisme yang menjadi karakteristik filsafat di tanah Jawa.   Sinkretisme yang dibawanya lumayan radikal.  Di hampir seluruh kompleks Angkor Wat, kita bisa lihat bangunan candi yang mengikuti arsitektur Hindu yang menyerupai candi Prambanan, namun dipadukan secara tumpang tindih dengan agama Budha yang dianut oleh Jayawarman. Di setiap candi Angkor Wat, bisa kita temukan patung Budha dengan versi yang sedikit berbeda dengan patung lainnya yang ada di bumi nusantara kita.

Entah bagaimana ini bisa diterima oleh masyarakat Kamboja pada saat itu.

Tapi buat saya ini sekali lagi menegaskan bahwa jalinan antara interpretasi dan kekuasaan sangat lah kuat.  Interpretasi yang dibawa oleh penguasa akan terlegitimasi dan menjadi terinternalisasi di dalam kehidupan keseharian masyarakat yang berada di bawah kepemimpinannya – bahkan untuk hal yang ’sakral’ sekalipun.  Interpretasi tersebut bahkan menjadi sebuah normalcy yang dianut dimasyarakatnya.

Jika demikian, saya masih berpendapat bahwa segala sesuatu harus lah dipahami didalam sebuah konteks kultural sebuah komunitas masyarakat.  Ia tidak bisa dianggap abadi.  Pertanyaannya adalah ’seberapa berani’ dan ’seberapa nyali’ kita untuk mengakui hal ini dan menegaskan dan  mengakui dalam setiap langkah kehidupan kita?   Lebih lanjut lagi, seberapa jauh kita kemudian berani untuk menjadi ‘pragmatis’, tidak lagi mengkotak-kotakan individu dan masyarakat berdasarkan hal-hal yang demikian, tetapi lebih melihat segala sesuatu melalui nilai guna dan manfaatnya untuk kita semua, bukan hanya segolongan umat saja?

Dugaannya, seiring kembalinya Raja Jayavarman ke tanah Kampuchea, ia tidak hanya membawa filsafat dan ajaran sinkretisme dari Jawa, namun juga penduduknya dan makanannya.  Walaupun saya belum melihat data absah yang menunjukkan hal ini, namun besar dan kuat dugaannya bahwa dimasa tersebut terjadi pergerakan dan perkawinan antara penduduk Angkor dengan Jawa.

Tidak mengherankan jika mereka yang tinggal di Thailand dan Kamboja secara fisik memiliki kemiripan dengan kita yang tinggal di Pulau Jawa.  Mungkin memang ada hubungan sejarahnya.

Makanan di Kamboja memang banyak dipengaruhi oleh masakan Thailand dan Perancis, namun signature dish dari tanah Kampuchea, atau pernah dikenal sebagai Champa, ini sepertinya memiliki kemiripan dengan masakan khas dari Jawa.

Namanya Amok.

Amok adalah olahan ikan yang disajikan dalam kuah santan.  Namun olahan santannya berbeda dengan masakan dari wilayah Sumatera Barat.  Olahan santannya lebih menyerupai opor.
Bayangkan kuah opor dengan ikan berdaging putih.

Ya, opor ikan.

amok

Amok biasanya disajikan diatas mangkuk yang dibuat dari daun pisang.  Saya sengaja memberanikan diri bertanya kepada pemilik restoran mengenai hal ini.  Penyajian amok yang baik memang selalu diatas daun pisang.  Menambah rasa dan selera makan, ujarnya dengan bahasa inggris yang terpatah-patah.

Lezat!

Kambing Ritual dan Sate Bang Wahab

Pernah kah anda bertanya sejak kapan kambing dijadikan hewan yang dipergunakan sebagai berbagai macam ritual agama, khususnya Islam, di Indonesia?

Jawabnya mungkin sejak Islam mengajarkan ritual Idul Adha.  Karena sulit untuk mencari unta atau hewan padang pasir lainnya, para pembawa agama Islam mungkin mempergunakan hewan yang mudah ditemukan dan diternak di Indonesia untuk dipergunakan sebagai hewan kurban: kambing.

Keunggulan kambing adalah ukurannya yang tidak terlalu besar, sehingga masing-masing individu dapat berkurban satu ekor kambing tanpa harus terasa berat, mudah diternakkan, dan dagingnya juga banyak dikonsumsi.

Atau, mungkin kah jawabannya justru sebaliknya?  Islam justru menggunakan apa yang biasa dipergunakan oleh penduduk setempat untuk berkurban dan mengasimilasinya di dalam ritual Idul Adha dan ritual keagamaan lainnya.

Artinya, praktek menggunakan kambing sebagai hewan kurban mungkin sudah terjadi sejak sebelum Islam datang ke tanah air.  Setidaknya ini lah kesan yang saya peroleh ketika saya tengah membaca buku terjemahan karya Bernard H.M. Vlekke yang bertajuk Nusantara.

Buat saya, ini buku yang sangat menarik.  Menarik karena ia menyajikan sejarah Indonesia untuk audiens masyarakat Amerika Serikat.  Disini kita bisa melihat penjelasan-penjelasan yang banyak kita anggap given.  Lagi-lagi, untuk saya, buku ini memberikan pandangan sejarah Indonesia dari sudut yang menarik.  Untuk Taufik Abdullah, yang memberikan Tinjauan untuk versi Bahasa Indonesia, buku ini bukan untuk yang direkomendasikan bagi pemula.  Apalagi ketika buku ini sebetulnya telah out of date.  Vlekke menerbitkan buku ini di tahun 1961.  Tetapi sebagai komparasi dan perbandingan bagi mereka yang sudah memahami sejarah Indonesia.

Entah saya masuk kategori yang mana, tetapi saya sangat terhibur dengan penyajian Vlekke tentang sejarah Indonesia dalam buku ini.

Nah, disamping banyak informasi lainnya, dari sini lah saya tahu bahwa Kerajaan Hindu di Jawa sudah mempergunakan kambing sebagai hewan kurban.  “Profesor Krom – seorang ahli besar Hindu – Jawa,” catat Vlekke, “pernah mencatat bahwa ada dua kambing di bawa ke candi … oleh seorang petani”.

Penting?  Mungkin tidak.

Lebih penting berbagi nikmatnya sate kambing Bang Wahab di Tangerang.  Waktu itu saya tengah berjalan-jalan di kota yang dikenal sebagai Benteng ini.

Di jalan Imam Bonjol ada sebuah kedai sate yang terkenal yang bernama sate Bang Wahab.

image052image053

Yang unik dari sate ini adalah penyajiannya.  Walaupun ketika dibakar tusuk sate dipergunakan, daging kambingnya tidak disajikan di dalam tusukan-tusukan sebagaimana biasanya sajian sate kambing, tapi justru disuguhkan dalam potongan-potongan setelah dibakar didalam sebuah piring.  Kita juga bisa memesan sate jeroan dan ati.  Serupa dengan sate daging, jeroan dan ati setelah dibakar disajikan tanpa tusuknya.

image047

Sepertinya kambing yang dipergunakan juga pilihan, yang muda.  Dan dengan pengolahan yang prima, daging yang disajikan samasekali tidak ada bau prengusnya.   Jeroannya juga tidak amis.   Menikmatinya pun jadi maksimal.  Yang harus berhati-hati ya mereka yang punya gejala darah tinggi dan kolesterol.  Makan disini bisa lupa sedang makan daging dan jeroan kambing.

image044image045

Saya juga memesan sop kambing disana.  Rasanya luar biasa.  Paduan merica dan kuah jeroan kentalnya sangat terasa pas.  Lagi-lagi tidak ada rasa amis.

image046

Jika ke Tangerang, jangan lupa mampir ke Sate Bang Wahab!

Tiktok van Depok dan Marketing Communications

Sebetulnya saya sudah lama melewati tempat berjualan Tiktok van Depok ini.  Tapi saya baru tergerak untuk berhenti dan mencicipi hidangan ini setelah ada liputan di Kompas minggu beberapa waktu yang lalu.

Sejak awal, saya sudah berkali-kali melirik ke warung ini.  Yang unik dari warung ini adalah promosi bahwa makanan yang disajikan berbahan dasar hewan yang tidak pernah kita temukan sebelumnya.  Ini karena sang empunya restoran lah yang melakukan penyilangan Itik dan Entok.   Ia menyebut hewan baru ini Tiktok

image039

Ketika saya mendatangi kedai ini, pengunjungnya cukup banyak.  Ada seorang ibu yang makan sendiri, dan kemudian memesan beberapa bungkus tiktok goreng dan panggang.  Di sudut yang lain, ada beberapa keluarga bersama anaknya tengah menikmati sup tiktok.  Pelayan kedai ini berlalu lalang sibuk melayani pembeli yang tak kunjung berhenti.

Saya sebetulnya ingin mencoba sup dan tongsengnya.  Konon enak.  Tapi sayang seribu sayang, ternyata sudah habis.    Akhirnya saya memesan tiktok goreng dengan nasi putih.

Rasanya memang seperti yang dijanjikan.  Ia bertekstur seperti ayam, dan juga memiliki rasa yang serupa dengan ayam.  Namun potongannya lebih besar dari ayam.  Kulitnya pun lebih tebal, lebih berminyak daripada ayam.

image0381

Tapi rasanya beda dengan bebek.  Liat daging khas bebek tidak kita temukan disini.  ‘Aroma’ khas dari daging bebek juga tidak kita temukan disini.

Sambil menikmati daging tiktok tersebut saya melihat keliling saya.  Usaha seperti ini lah yang kita butuhkan saat ekonomi global terpuruk.  Ekonomi yang asli Indonesia.  Mulai dari bahan baku, hingga pemasaran pun di lakukan di Indonesia.  Saya pernah mengajak orang untuk makan di warung untuk memajukan ekonomi Indonesia.  Kini, saatnya kita untuk mengembangkan usaha kecil dan menengah seperti ini.

image0412

Yang sering terabaikan dalam usaha kecil dan menengah adalah aspek marcomm-nya.  Usaha kecil dan menengah seringkali hanya mengandalkan words of mouth.  Walaupun dalam pemasaran dan public relations kanal ini merupakan kanal yang terbaik, namun kadang-kadang sulit untuk memulainya.

Nah, Tiktok van Depok mulai ramai dikunjungi calon pelanggan setelah publisitas yang dilakukan di Kompas.  Strategi yang demikian dapat dipergunakan oleh banyak usaha kecil dan menengah di Indonesia untuk memasarkan produknya.

Nampaknya masyarakat banyak yang sudah mulai mengapresiasi editorial produk, atau cerita tentang sebuah produk yang disajikan di harian atau majalah.  Masyarakat Indonesia, yang kini tingkat intelegensianya semakin tinggi, nampaknya lebih suka membaca cerita tentang bagaimana Tiktok van Depok disilangkan dari Entok dan Itik, bagaimana makanan ini diolah, human stories yang ada di belakang ini semua.

tiktok-depok-kompas

Keleluasaan pilihan waktu untuk menerima informasi juga penting.  Mereka bisa memilih sendiri: di pagi hari, siang, atau malam menjelang tidur. Mungkin masyarakat sudah jenuh dengan hard-selling a la iklan yang modanya adalah menginterupsi aktivitas kita.  Ada kesan mengganggu disini.

Rasanya baru belakangan ini saya membaca buku tentang matinya advertising.   Ternyata, dampaknya sudah bisa dirasakan di Depok!