Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga. Matahari belum menampakkan cahayanya waktu itu, tapi kami: @arimargiono, @shillach dan @dody_rochadi, dengan penuh semangat melangkahkan kaki, berangkat menuju pulau Bangka dan pulau Belitung. Lima puluh menit lamanya kami terbang dari Bandara Soetta menuju kota Pangkal Pinang.

Tiba di pulau Bangka, tujuan kami hanya satu: menikmati Mie Bangka yang kesohor. Atas jasa baik kawan kami, @inistephanie, sang pengemudi yang sudah diberi instruksi lengkap pun langsung membawa kami menuju kedai Mie yang paling nikmat di pulau bekas propinsi Sumatera Selatan ini.
Kedainya berada dekat pasar Ramayana; semua orang di Bangka pasti tahu tempat ini. Konon, pasar ini begitu happening hingga bisa ramai sampai jam 2 pagi!
Nah, kedai Mie yang sangat terkenal ini tampak sederhana. Tapi ya biasanya memang begitu, yang sederhana itu justru yang enak. Malah, beberapa teman punya prinsip: “the dirtier, the better”.
Karena belum sarapan dan perut yang keroncongan betul-betul mendera kami sepanjang perjalanan, kontan kami pun memesan mie komplitnya, lengkap dengan baso, babat, dan pangsit.

Ahh, luar biasa nikmatnya. Yang menjadikan mie ini berbeda dan nikmat adalah topping jeruk kunci khas pulau Bangka yang disajikan hampir di setiap restoran sebagai side dish. Sesuai selera, kita bisa secara generous mengucurkan air jeruk kunci ini ke setiap hidangan yang disajikan di pulau Bangka, mulai dari mie, hingga ikan bakar.
Konon jeruk kunci ini hanya ada di pulau Bangka.

Disaat kami tengah menyantap Mie yang luar biasa nikmatnya ini, mata @shillach terpaku pada kuali besar yang tengah diaduk. Dari tempat kami duduk, hanya bongkahan besar-besar yang terendam dalam kuah berwarna merah cabai yang terlihat. @shillach berdiri dan langsung bertanya pada empunya kedai.
Ternyata hidangan yang tengah dipersiapkan adalah Lempa Tulang dan Kikil. Kami langsung memesan satu mangkuk. “Enak kok”, kata yang punya restoran.

Karena mie saya belum habis, saya hanya menyeruput sesendok kuah lempa ini. Sluurp. Luar biasa nikmatnya! Rasanya seperti sajian asam-pade di restoran Padang, namun dengan kuah yang banyak. Dimakan dengan nasi panas, hidangan ini akan benar-benar membuat kita ketagihan!
Rasa lapar seketika hilang terpuaskan oleh hidangan luar biasa di pulau yang hampir 30 persen penduduknya adalah warga keturunan Tionghoa ini.
Tak mengherankan jika sasaran wisata kuliner kami berikutnya adalah restoran chinese food yang nomor wahid di Pangkal Pinang. Konon, semua koki restoran chinese di kota ini adalah lulusan dari restoran ini. Nama restorannya adalah Fuk Sin, atau dikenal juga sebagai restoran Afuk.

Sepintas lalu restorannya memang tidak meyakinkan. Tempatnya seperti tidak sedang buka, mejanya kotor dan berdebu. Samasekali tidak mencerminkan restoran yang ramah pada pengunjungnya.
Pelayannya pun juga membingungkan. @dody_rochadi hendak memesan “baby kailan”. Dijawabnya: “nggak ada, adanya babi hong”. Nah lo!
Tapi ternyata rasa masakannya luar biasa. @arimargiono memesan ikan kerapu tim yang benar-benar lezat. @dody_rochadi dan @shillach menikmati fu yong hai kepiting yang benar-benar berbeda: tebal dan penuh dengan cingkong (daging capit) kepiting.
Pingsan rasanya. Pingsan karena diliputi rasa nikmat.
Filed under: Domestic Trips, Street Hawkers, Uncategorized | 3 Comments »













