Bangka Belitung Trip #4: Laskar Rajungan di Belitung

Setelah berjuang melawan rasa takut dan mual dalam perjalanan menuju Tanjung pandan, pada sore hari yang cerah itu berlabuh lah kami di pulau Laskar Pelangi ini.

Penjemput dari hotel, yang sudah siap untuk mengantarkan kami ke resor Lor In, melambai-lambaikan papan nama dari ujung dermaga untuk menarik perhatian kami.

Jauh-jauh hari sebelum berangkat, ayah saya mengingatkan tentang aspek kesohor pulau Belitung selain cerita Laskar Pelangi. Yaitu Rajungan! Pulau ini terkenal dengan Rajungan yang melimpah. Rajungan adalah sejenis kepiting laut (Portunus pelagicus) yang dagingnya lembut. Ia banyak diekspor untuk konsumsi di luar negeri, dan disana dikenal dengan nama blue crab atau flower crab.

Rajungan berbeda dengan kepiting bakau (Scylla serrata) yang banyak dikonsumsi di Indonesia.

Sejak kecil keluarga saya memang penikmat rajungan. Bahkan, perkenalan saya dengan jenis kepiting-kepitingan ini adalah melalui rajungan. Biasanya, di hari minggu pagi, Ibu mengukus rajungan segar dengan arang (untuk menghilangkan racun) lalu kami sekeluarga menyantapnya dengan kecap manis dan cabai rawit. Lezat sekali.

Kasak kusuk kesana kemari @arimargiono, @shillach, dan @dody_rochadi akhirnya mendapati Restoran Pribumi yang menyajikan hidangan rajungan yang sudah dibuat perkedel.

IMG_7351

Perkedel rajungan? Ini makanan yang hanya saya temui di rumah nenek saya dahulu. Tidak pernah ada di tempat lain, apalagi di restoran. Seumur hidup saya, nggak pernah makan perkedel rajungan di luar rumah eyang. Eyang putri memang dulu sering membuat perkedel rajungan yang unik. Daging rajungan yang telah diolah diletakkan di atas cangkang penutup rajungan dan kemudian digoreng. Ahh, nikmat sekali jika dimakan dengan nasi putih hangat.

IMG_7353

Untuk sesaat, saya merasa de javu di restoran Pribumi.

Kalap, saya menyantap banyak sekali perkedel rajungan ini. Bahkan, saya pun memesan untuk dibungkus sebanyak 50 buah untuk di bawa ke Jakarta sebagai buah tangan untuk ayah dan keluarga.

Dengan pemilik restoran, kami bercakap-cakap tentang rajungan. Ternyata, rajungan sekarang sulit di dapat di pasar. Karena lebih banyak di ekspor daripada untuk konsumsi dalam negeri. Harganya cukup bagus untuk ekspor, katanya.

Tak heran, jika saya mencari rajungan yang besar-besar, biasanya harus di supermarket barang impor Ranch Market. Jangan-jangan diekspor dari Belitung, lalu diimpor oleh supermarket ini? Jika benar, ya keterlaluan.

Perjalanan di Belitung menjadi begitu menyenangkan. Apalagi ditambah dengan sesi foto-foto di pinggir pantai yang begitu indahnya!

IMG_7400IMG_7515

Belitung, I will be back!

Leave a Reply