Karena usil, kami akhirnya memutuskan untuk mencoba menggunakan jetfoil untuk menyeberang ke Pulau Belitung dari Pangkalpinang. Alternatif penyeberangan antar pulau ini memang terbatas. Ada penerbangan antara Pangkalpinang dengan Tanjungpandan menggunakan Riau Airlines. Namun tidak setiap hari. Itu pun, konon, hanya dapat memuat 50 penumpang sekali terbang.
Alhasil, banyak yang memilih untuk menggunakan jetfoil atau, untuk beberapa orang, lebih memilih transit ke Jakarta.
Siang itu, dengan riang gembira kami pergi ke pelabuhan untuk menaiki jetfoil. Di benak saya, pengalaman yang sangat baik menggunakan kapal ‘ferry’ Stenaline dari Harwich ke Amsterdam membuat saya begitu antusias untuk menggunakan jasa transportasi laut satu ini. Saya juga mendengar dari beberapa kawan, bahwa jetfoil Bangka Belitung lumayan bagus.

Saat makan siang di sebuah restoran seafood terkenal di Pangkalpinang, iseng-iseng saya browse di internet tentang jetfoil ini. Ternyata berita yang mendominasi adalah karamnya jetfoil ini di perairan Bangka.
Duh, jantung saya berdegup kencang. Segera saya memberitahu @shillach dan @dody_rochadi. Perhatian kami teralih dari kepiting lezat yang tengah disantap.

Sup perut ikan yang sangat segar dan ikan ayam-ayam bakar lezat pun jadi terbengkalai.


Nah lo.
Saat tiba di pelabuhan hati kami sedikit terhibur melihat kapal jetfoil Ekspres Bahari yang ternyata bagus dan terlihat baru. Interior di kabin VIP pun juga sangat memadai: AC yang dingin, tempat duduk yang nyaman. Ini belum menyebut layar lebar di depan kabin yang memutar film hollywood. Intinya, @arimargiono, @shillch, dan @dody_rochadi betul-betul puas dan bahagia dengan kabin VIP-nya. Hilang ingatan kami tentang liputan kapal Ekspres Bahari yang karam beberapa waktu yang lalu.


Satu jam pertama dari perjalanan diwarnai dengan canda, tawa, dan ajakan @shillach untuk berfoto-foto di dek luar. Namun karena film Transformers tengah diputar, kami memutuskan untuk menunda sesi foto-foto di dek kapal.
Memasuki jam kedua dari perjalanan, kapal mulai terasa oleng. Ombak terasa semakin besar. Banyak penumpang mulai berwajah pucat karena mual. Kami juga pucat. Mual dan khawatir. Ingatan liputan kapal yang karam kembali muncul di benak kami.
Tiga jam lamanya kami terombang-ambing. Perut seperti dikocok-kocok. Kepala sangat pusing rasanya. @shillach duduk menutup mata sambil menggengam tangan @dody_rochadi erat-erat. @arimargiono berjalan ke dek dengan harapan dapat menghilangkan pusing. Alhasil saya malah muntah-muntah di toilet.
Tidak ada sesi foto-foto. Semua duduk menutup mata, mencengkram sandaran kursi dan berjuang melawan pusing, mual, dan takut.
Susana kemudian menjadi lebih tenang ketika kapal mendekat pelabuhan Tanjung Pandan. Ketika jetfoil Ekspres Bahari berlabuh, rasa lega bercampur dengan lelah dan lemas membalut kami semua.
Pulau Belitung, here we are …..
Filed under: Domestic Trips, Street Hawkers
hadoh, baru sekali-sekalinya naik kapal penuh penderitaan–soundtrack-nya aja “bila tiba waktuku”-nya ungu… ;p
stress berat!
kalo naek kapal laut sih, emang enaknya keluyuran di luar. Masuk ke ruangan pas ngantuk aja.