Pernah kah anda bertanya sejak kapan kambing dijadikan hewan yang dipergunakan sebagai berbagai macam ritual agama, khususnya Islam, di Indonesia?
Jawabnya mungkin sejak Islam mengajarkan ritual Idul Adha. Karena sulit untuk mencari unta atau hewan padang pasir lainnya, para pembawa agama Islam mungkin mempergunakan hewan yang mudah ditemukan dan diternak di Indonesia untuk dipergunakan sebagai hewan kurban: kambing.
Keunggulan kambing adalah ukurannya yang tidak terlalu besar, sehingga masing-masing individu dapat berkurban satu ekor kambing tanpa harus terasa berat, mudah diternakkan, dan dagingnya juga banyak dikonsumsi.
Atau, mungkin kah jawabannya justru sebaliknya? Islam justru menggunakan apa yang biasa dipergunakan oleh penduduk setempat untuk berkurban dan mengasimilasinya di dalam ritual Idul Adha dan ritual keagamaan lainnya.
Artinya, praktek menggunakan kambing sebagai hewan kurban mungkin sudah terjadi sejak sebelum Islam datang ke tanah air. Setidaknya ini lah kesan yang saya peroleh ketika saya tengah membaca buku terjemahan karya Bernard H.M. Vlekke yang bertajuk Nusantara.
Buat saya, ini buku yang sangat menarik. Menarik karena ia menyajikan sejarah Indonesia untuk audiens masyarakat Amerika Serikat. Disini kita bisa melihat penjelasan-penjelasan yang banyak kita anggap given. Lagi-lagi, untuk saya, buku ini memberikan pandangan sejarah Indonesia dari sudut yang menarik. Untuk Taufik Abdullah, yang memberikan Tinjauan untuk versi Bahasa Indonesia, buku ini bukan untuk yang direkomendasikan bagi pemula. Apalagi ketika buku ini sebetulnya telah out of date. Vlekke menerbitkan buku ini di tahun 1961. Tetapi sebagai komparasi dan perbandingan bagi mereka yang sudah memahami sejarah Indonesia.
Entah saya masuk kategori yang mana, tetapi saya sangat terhibur dengan penyajian Vlekke tentang sejarah Indonesia dalam buku ini.
Nah, disamping banyak informasi lainnya, dari sini lah saya tahu bahwa Kerajaan Hindu di Jawa sudah mempergunakan kambing sebagai hewan kurban. “Profesor Krom – seorang ahli besar Hindu – Jawa,” catat Vlekke, “pernah mencatat bahwa ada dua kambing di bawa ke candi … oleh seorang petani”.
Penting? Mungkin tidak.
Lebih penting berbagi nikmatnya sate kambing Bang Wahab di Tangerang. Waktu itu saya tengah berjalan-jalan di kota yang dikenal sebagai Benteng ini.
Di jalan Imam Bonjol ada sebuah kedai sate yang terkenal yang bernama sate Bang Wahab.


Yang unik dari sate ini adalah penyajiannya. Walaupun ketika dibakar tusuk sate dipergunakan, daging kambingnya tidak disajikan di dalam tusukan-tusukan sebagaimana biasanya sajian sate kambing, tapi justru disuguhkan dalam potongan-potongan setelah dibakar didalam sebuah piring. Kita juga bisa memesan sate jeroan dan ati. Serupa dengan sate daging, jeroan dan ati setelah dibakar disajikan tanpa tusuknya.

Sepertinya kambing yang dipergunakan juga pilihan, yang muda. Dan dengan pengolahan yang prima, daging yang disajikan samasekali tidak ada bau prengusnya. Jeroannya juga tidak amis. Menikmatinya pun jadi maksimal. Yang harus berhati-hati ya mereka yang punya gejala darah tinggi dan kolesterol. Makan disini bisa lupa sedang makan daging dan jeroan kambing.


Saya juga memesan sop kambing disana. Rasanya luar biasa. Paduan merica dan kuah jeroan kentalnya sangat terasa pas. Lagi-lagi tidak ada rasa amis.

Jika ke Tangerang, jangan lupa mampir ke Sate Bang Wahab!
Filed under: Domestic Trips, Street Hawkers
katanya kalo di arab sih yg dipotong domba, kalo di kita banyakan kambing. Udah nyobain sate domba afrika? enak, katanya gak sebau kambing dan low cholestrol (maca ciiih).di Jl Ampera juga ada Dombrut (Domba Garut), cobain gih..ntar kasih reviewnya hihihihihi….
katanya kalo di arab sih yg dipotong domba, kalo di kita banyakan kambing. Udah nyobain sate domba afrika? enak, gua makan yg di Casablanca,gak sebau kambing dan katanya low cholestrol (maca ciiih).di Jl Ampera juga ada Dombrut (Domba Garut), cobain gih..ntar kasih reviewnya hihihihihi….
makan-makan yuuuukkkkkkkkk!!!!!!! udah lama ga gosipppp
Udah dua bulan niy kosong blognya..
kalau makan disitu siap2 aja sama asepnya. yang pasti jangan kesalon dulu. hehehehe….