Dorongan terbesar saya untuk menulis blog ini sesungguhnya adalah menulis tentang sejarah makanan. Saya merasa ada cerita yang mendalam dibalik gurih dan nikmatnya makanan yang kita santap setiap hari. Misalnya, ada banyak makanan yang kita nikmati di Indonesia sesungguhnya dipengaruhi oleh olahan dari Tiongkok. Mungkin ini tidak terlalu mengherankan karena di dalam banyak buku sejarah disebutkan bahwa asal muasal dari bangsa-bangsa yang ada di Indonesia, khususnya di bagian barat negeri ini adalah dataran Cina Selatan.
Tahukah anda bahwa tempe dan tahu Bacam yang banyak kita temukan di Jawa, misalnya, jelas dipengaruhi oleh cara pengolahan tahu kecap yang mirip dan dapat kita temukan di banyak restoran Cina.
Sayangnya, sejarah sebuah makanan menjadi hal yang sangat sulit untuk di temui, sehingga saya banyak hanya menduga-duga dan menebak-nebak asal muasal dari sebuah olahan.
Begitu pula dengan sup buntut. Saya tidak tahu pasti dari mana asal sup ini, tapi yang jelas makanan ini sering diasosiasikan dengan kalangan menengah keatas. Mungkin karena harga buntut yang mahal dan di Jakarta, sup buntut yang paling lezat, konon, yang disajikan di Hotel Borobudur.
Namun belakangan ini, sup buntut banyak bisa ditemukan di berbagai kedai. Mulai dari kedai di pinggir jalan, seperti misalnya Sup Buntut yang terkenal di dekat mesjid Cut Mutia, Jakarta, hingga sup buntut yang saya icipi di bilangan Cipaganti, Bandung.
Warung Sup Buntut ini bernama Dahapati. Saya tahu tempat ini dari sesama penikmat makanan yang tinggal di kota kembang ini.

Warung ini memiliki dua buah tempat makan yang unik pengaturannya. Tempat makan utama justru yang berada di paviliun. Sementara, annex-nya justru rumah utama yang dibangun di jaman Belanda. Entah mengapa seperti ini pengaturannya.
Tempatnya memang tidak begitu terlihat dari pinggir jalan. Malah cenderung agak remang-remang dan kurang menarik untuk dikunjungi. Tapi belakangan ini, restoran ini malah penuh dikunjungi oleh banyak orang yang ingin mencicipi nikmatnya sup buntut goreng di udara Bandung yang sejuk.
Sup buntut gorengnya nikmat. Walaupun sebetulnya saya lebih suka buntut yang digoreng kering, namun penyajian buntut goreng dengan karamel yang manis juga lumayan lezat. Harganya memang diatas rata-rata menu wisata kuliner di Bandung, tapi cukup terjangkau untuk menikmati makanan ‘kalangan atas’ di sini.

Pernah saya bercerita tentang nikmatnya daging buntut ke kawan saya yang berasal dari Eropa. Ia sempat terheran-heran mengetahui bahwa masyarakat Indonesia gemar menyantap bagian tubuh sapi yang satu itu.
“Buntut?”, ujarnya. “Maksud kamu buntut yang di belakang itu?”, dengan kerutan dahi yang kentara.
Saya tersenyum. Kenapa heran, siapa tahu sup buntut itu kreasi para pendatang dari Belanda jaman dahulu, nenek moyangnya?
Filed under: Domestic Trips, Street Hawkers
Udah pernah nyoba Sop Buntut Ibu Samino? Di Permata Hijau ada, di Pakubuwono juga ada. Enak:) Kata Pak Bondan, yg di Cut Meutia dulu pemasok buat Hotel Borobudur, walahualam:)
hahahah di eropa sana ga ada sup buntut yah
http://www.hargaku.com
jangan sekali kali pesan sop buntut di Malaysia bisa bisa di pelototin…bilangnya sop ekor baru di kasih..
[...] yang saya perhatikan dari dahapati. Sekitar awal 2005, ketika saya pertama kali ke bandung, kalo pulang ke kosan, angkot kebetulan [...]