Obama dan Papeda Papua

Ada yang membuat saya terkejut ketika saya menginjakkan kaki di tanah Papua beberapa waktu yang lalu.  Ini kejadiannya ketika saya tengah menumpang kendaraan dari Bandara di Sentani menuju kota Jayapura.  Karena sudah dekat dengan masa pemilihan umum, maka di sepanjang perjalanan dapat kita lihat berbagai kandidat menampilkan foto, slogan, dan pesan singkatnya.

Hampir semua kandidat berusaha menampilkan foto terbaiknya, dan biasanya disertai dengan tawaran-tawaran singkat seperti “membawa perubahan”, atau “mengantarkan aspirasi anda”.  Fenomena ini tidak unik disini, tapi hampir terjadi juga di berbagai tempat di Indonesia.

Nah, yang unik adalah ketika ada wajah Presiden-terpilih Amerika Serikat, Barack Obama ditengah-tengah foto-foto kandidat ini.  Satu poster yang diusung oleh Partai Demokrat menampilkan foto Presiden Obama berdampingan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.  “Partai Demokrat, memberikan dukungan kepada kandidat Partai Demokrat”, ujarnya.

Sungguh menarik.  Satu nama tapi mengacu pada dua realitas yang sangat berbeda.
obama

Euforia Obama ternyata juga terasa di tanah Papua ini.   Untuk sesaat, pemilihan Obama menjadi seperti pemilihan presiden sedunia.  Ini lah kekuatan media dan kampanye.  Ia bisa melintasi batas-batas negara dan batas-batas etnis.  Jika dipergunakan secara tepat, kampanye dan media dapat menggerakan massa.  Memberikan momentum yang kadang sulit untuk diwujudkan tanpanya.

Papua buat saya merupakan wilayah Indonesia yang terindah.  Kota Jayapura sendiri berada di teluk biru yang tenang dan memiliki alam yang berbukit-bukit.

Kunjungan ke Papua kali ini merupakan kunjungan yang pertama sejak tahun 2003.  Waktu itu, ketika saya masih bekerja untuk sebuah NGO capacity building dari Amerika, kunjungan ke Papua bisa dilakukan berkali-kali. Meskipun kami lelah, sudah tradisi rasanya untuk mampir ke Restoran Yougwa di pinggiran danau Sentani sesaat setelah mendarat di Bandara Sentani.  Perut biasanya keroncongan saat pagi hari tiba di Papua.

Disini lah saya diperkenalkan dengan makanan tradisional Papua, papeda.  Papeda adalah makanan pokok etnis Papua yang dulu hanya saya kenal melalui buku-buku pengetahuan sosial di sekolah dasar.  Ia dibuat dari tepung sagu yang diambil dari pohon sagu yang banyak terdapat di tanah Papua.  Lalu, diseduh dengan air panas sambil diaduk rata.

img_4158

Papeda memang berbentuk seperti lem kanji.  Jadi, bagi yang baru pertama kali menyantap makanan yang kaya akan karbohidrat ini, ada sensasi unik.

Tapi bagi yang sudah sering, papeda itu bisa membuat kita ‘nagih’.  Jika disantap dengan sup ikan, rasanya jadi luar biasa sedap.  Sup ikan ini juga bukan sembarang sup.  Ia disebut kuah kuning oleh penduduk setempat.  Di restoran Yougwa, kuah kuning menggunakan ikan gabus atau ikan mujair yang langsung diambil dari danau Sentani.

img_4156

Konon, masyarakat adat di sekitar danau Sentani sudah memiliki peraturan adat yang cukup maju.  Mereka mempunyai aturan untuk memanen ikan.  Ada musim-musim tertentu dimana mereka tidak diperbolehkan untuk pergi menangkap ikan di danau.  Ini, katanya, untuk membiarkan ikan-ikan yang kecil menjadi dewasa.  Kebijaksanaan lokal ini yang perlu banyak digali dari peradaban bangsa kita.  Untuk saya, kebijaksanaan lokal di luar budaya Jawa jauh lebih menarik.

Sepertinya, nilai-nilai kebangsaan Indonesia sudah terlalu banyak menyerap budaya Jawa dan meminggirkan budaya-budaya lain yang sesungguhnya juga sama kaya dan majunya.

Saya biasanya enggan untuk menyantap sup ikan yang berasal dari ikan air tawar, kecuali sup ikan gurami di beberapa restoran yang pandai mengolahnya.  Namun ikan air tawar di danau Sentani rupanya berbeda.  Samasekali tidak ada bau tanah.  Dagingnya pun putih dan tebal.  Mirip dengan ikan laut.

img_4164

Rasanya gurih dan manis. Segar sekali.  Ikan ini juga lezat jika diolah dengan cara lain, misalnya goreng rica atau masak woku.  Restoran ini sudah membuka cabang di Jakarta.  Yougwa bisa ditemui di Plasa Semanggi dan di Kelapa Gading.  Saya pernah mencoba di Kelapa Gading.

Tapi kok ya kecewa.

Mungkin karena saya terlalu semangat membayangkan segarnya ikan danau Sentani di Kelapa Gading.

6 Responses

  1. haaaa….
    oleh-oleh dari Papua nih. Baru ngeh kalo Pepeda itu kaya lem begitu ya….

  2. salam kenal,

    aku dah pernah coba papeda, tapi versi makasar punya…ga tau apa udah di modif/ga, tapi kali ini pasangan papedanya bukan sup ikan tp sup (daging+jantung pisang+sayur2an…)so pasti rasanya uenakkkk bgt, ‘n pasti ketagihan ;)

  3. ya emang kayak begitu rom. musti dicoba!

    ***

    salam kenal juga ya, wah, jadi pengen nyoba papeda makasar nih. kayaknya enak. kalau di papua, papeda yang dimakan dengan ikan itu biasanya papeda bakar, dibungkus dengan daun pisang

  4. woi.. setdah jalan2 mulu lu yak?
    duh.. kangen wisata boga nusantara nih… :(

  5. pengen nyobain deh pak… :D

  6. wuah, terima kasih. saya minta izin comot untuk tugas bahasa indonesia boleh kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.