Tujuan Beragama dan Makanan Rantau

Baru belakangan ini saya bisa menyantap makanan yang layak ketika bepergian ke luar negeri.  Mungkin karena pengalaman perjalanan ke luar negeri sebelumnya, status saya mahasiswa.  Sehingga benar-benar terasa perlu untuk menghemat habis-habisan.

Ketika kuliah di Inggris, misalnya.  Hampir pasti saya selalu berkunjung ke kedai Kebab di dekat kampus.  Makanannya murah dan cukup dapat memanjakan lidah Asia yang rindu dengan makanan rumah.

Biasanya saya selalu membeli daging kebab tanpa roti pratta yang biasanya disajikan berpasangan.  Sampai di asrama, biasanya langsung saya santap dengan nasi putih hangat.

Wah luar biasa.

Kesempatan hidup dan belajar di negeri orang, melihat perilaku berbagai macam manusia di berbagai belahan dunia ini, pun juga membuka cakrawala saya untuk memahami lebih dalam atas tujuan kita hidup beragama.

Belakangan ini memang kita banyak melihat agama menjadi populer dan naik daun di Indonesia.  Nuansa religius banyak terlihat di berbagai tayangan televisi.  Penjualan barang yang diberi bumbu agama akan lebih laku.  Sekarang banyak kita lihat handphone yang ‘religius’ – karena ada Al Quran di dalamnya.

Tapi benarkah kita sesungguhnya lebih religius?

Buat saya, menjadi religius tidak perlu simbolik.  Menjadi religius cukup berangkat dari hati yang bersih.   Saya memang bukan ulama, atau ustad.   Mungkin juga tidak kompeten untuk bicara ini semua.  Tapi, menurut saya, setiap orang rasanya punya hati nurani.  Hati bersih yang bisa didengar.  Hati yang akan berontak jika melihat dan melakukan kebathilan.

Bahkan, hati bersih ini pun sebetulnya bisa memberitahu kita tentang kesungguhan religiusitas yang kita miliki.  Apakah kita betul-betul jujur kepada diri kita tentang kereligiusan kita, atau kita sesungguhnya sedang mencari identitas dan mencoba menyelamatkan diri dengan menunjuk, menghukum, dan menghina mereka yang dianggap salah.

Cukup jujur dengan diri sendiri.  Berdiri di depan cermin dan melihat bayangan kita disana dengan hati kita.

Saya juga agak khawatir melihat bagaimana kita menjadi sangat ‘perhitungan’ ketika melakukan hal-hal yang berhubungan dengan agama.  Entah lah, saya mungkin salah, tapi rasanya ada yang tidak benar jika tujuan kita beragama adalah berlomba-lomba mengumpulkan pahala, atau ‘kredit’ kita untuk masuk surga.  Apalagi jika ini dilakukan dengan membuat orang, atau pihak lain, menderita.

Lagi-lagi saya tidak tahu, dan mungkin salah, tapi apakah Tuhan melihatnya demikian?  Jika pahala, atau ‘kredit’ kita untuk masuk surga dihitung secara matematis, maka – mengikuti ujaran bahwa niat adalah setengah dari perbuatan – dengan dua kali berniat, tanpa melakukan sebuah usaha dan perbuatan, kita sudah melakukan perbuatan itu sendiri.

Masuk akal kah?

Dus, religiusitas mungkin tidak ditampilkan melalui jubah panjang dan pakaian tertentu.  Atau gelar-gelar seperti Syekh dan lainnya.  Mungkin tidak perlu ditampilkan dengan foto pre-wedding yang menampilkan suami-istri yang sedang mengaji atau shalat berjamaah.    Atau mungkin juga tidak perlu ditampilkan dengan parang, pedang, dan wajah suram memberantas kemaksiatan.

Religiusitas mungkin tidak perlu ditampilkan semata-mata dengan simbol-simbol yang dangkal.

Religiusitas mungkin perlu ditampilkan melalui tindakan rendah hati dan keperdulian terhadap sesama yang mendalam.   Mungkin ditampilkan melalui contoh-contoh baik untuk menghargai orang lain.  Contoh-contoh baik untuk menjaga minoritas dan kaum tertindas.  Kepedulian kita kepada hidup orang lain yang kurang beruntung.

Mungkin kita juga harus mulai berpikir untuk tidak ‘menyogok’ Tuhan dengan upeti-upeti pahala atau berbicara dan bertindak atas nama Tuhan.

Religiusitas mungkin juga berarti kita tahu bahwa kita tidak boleh membuat orang lain menderita semata-mata hanya karena keinginan kita untuk masuk surga.

Mungkin kita harus mulai berhati bersih, bertutur santun, peduli dengan lingkungan kita, dan membiarkan Tuhan menilai tindakan kita semua di akhir masa nanti.

About these ads
3 comments
  1. roi said:

    jadi keingetan tulisannya Cak Nun.
    Suatu saat Cak Nun ditanya: Kalau Anda mau pergi Shalat Jum’at lalu di jalan ada orang beragama Hindu mendapat kecelakaan, apakah Anda meneruskan perjalanan ke mesjid terdekat untuk Shalat Jum’at atau apakah Anda menolong orang Hindu itu?
    Cak Nun menjawab dengan pasti: Ya menolong orang Hindu yang kecelakaan itu.
    ….

  2. beq said:

    hehehe.. akhirnya sebuah tulisan yg bukan tentang makanan.. :)

    nice to have you back, no

    • arimgn said:

      wah, emang gue dari mana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: