Patriotik dan Makanan Khas Jawa Timur

Berkunjung ke Surabaya di bulan Agustus memberikan kesan yang berbeda. Pemerintah kota nampak sibuk mendandani berbagai sudut kota dengan bendera, lampu dekorasi, hingga gedung-gedung tua yang dicat ulang sehingga terlihat sangat terawat. Warnanya pun tidak monoton putih seperti pada umumnya, tapi justru dengan warna warni yang semarak.

Ada rasa bangga melihat ini semua. Ada semangat nasionalisme yang bergelora ketika melihat persiapan yang dilakukan dengan baik oleh pemerintah kota ini.

Hari itu saya bertekad untuk sama sekali tidak makan-makanan asing. Tapi justru mencari makanan kebanggaan bangsa kita, khususnya yang menjadi makanan khas Jawa Timur di berbagai sudut kota Surabaya.

Diawali dengan menikmati Sate Kelopo atau Klopo “Ondomohen” di pagi hari sebagai sarapan. Sesuai namanya, letaknya di jalan “Ondomohen”. Ini adalah Sate Madura yang dibalur dengan kelapa parut. Setelah dibakar diatas arang ketika hendak dihidangkan, sate ini disajikan dengan bumbu kacang khas dari Jawa Timur dan Madura.

Yang unik dari sate ini adalah tempatnya yang berada di pinggir jalan, kaki lima, dan habis ludes diatas jam 9 pagi. Rasanya nikmat. Kita bisa memilih sate daging sapi dengan berbagai macam selipan, seperti lemak, usus, sumsum, dan banyak lainnya.

Hari belanjut dengan ‘ngemil’ Rujak Cingur. Tempat yang terkenal adalah di pusat perbelanjaan Delta. Bagi yang tidak tahu istimewanya rujak khas Jawa Timur ini, yang membedakan hidangan ini dengan lainnya adalah cingurnya itu. Cingur adalah bagian dari hidung sapi yang sudah dibersihkan dan di sajikan bersama buah dan sayur di bawah selimut bumbu kacang dan petis.

Ketika matahari sudah berada di atas ubun-ubun, menikmati Soto Daging dengan nasi putih nampaknya dapat melepas rasa lapar yang sudah mulai merasuki. Soto Daging Wawan menjadi pilihan saya. Soto Daging a la Jawa Timur ini memiliki bumbu yang khas. Kuahnya pekat dengan bumbu rempah-rempah, membuat jeroan yang disajikan bersama daging terasa nikmat. Ada pilihan yang bisa kita ambil. Soto daging saja. Atau soto daging yang dicampur dengan berbagai macam jeroan, seperti paru, hati, otak, dan usus sapi.

Malamnya, saya mengunjungi Ayam Goreng Asli Pemuda. Ini berbeda dengan Ayam Goreng Pemuda di Jakarta. Namanya pun “Asli Pemuda”. Nikmat rasanya. Ayamnya panas dan empuk. Rasanya agak sedikit berbeda dengan ayam gantung yang banyak di temukan di Jawa Barat. Ini berhubungan dengan selera, tapi saya lebih suka dengan ayam gantung Brebes yang ada di Jawa Barat daripada Ayam Goreng Asli Pemuda ini.

Menjadi patriotik tidak perlu sempit. Tidak perlu kemudian harus mengikatkan merah putih melingkari kepala kita. Tidak perlu juga mengangkat senjata dan bambu runcing.

Atau memilih jalan hidup yang susah atas nama nasionalisme

Buat saya, menjadi patriotik adalah ketika seseorang turut memikirkan nasib bangsa Indonesia. Bagaimana caranya, apapun yang dilakukannya, ia adalah seorang patriotik. Sepanjang tidak merugikan orang banyak. Di masa kini, patriotik pun harus cerdas. Harus banyak inovasi dan kreativitas untuk dapat menjadi patriotik.

Jika tidak, kita semua akan terjebak pada pengulangan-pengulangan dan ritualisme yang tidak perlu.

One Response

  1. tsaaah, kalimat terakhirnya itu… hahaha. kok nggak pernah dibawain oleh-oleh makanan dari perjalanan-perjalanan ini ya? kalo nggak ada oleh-oleh berarti hoax! :D

Leave a Reply