Ingat, Limbah Makanan Harus Kita Olah!

Makan enak memang selalu menyenangkan.  Memanjakan lidah dengan berbagai rasa yang kaya dan luar biasa.  Menikmati setiap kecap makanan yang masuk ke mulut kita.

Namun, seribu sayang, dorongan untuk memanjakan lidah ini seringkali tidak dibarengi dengan pemahaman menyeluruh tentang limbah yang dihasilkan.  Kita seringkali tidak peduli tentang sampah organik yang dihasilkan oleh sisa bahan masakan atau makanan yang kita konsumsi.  Dengan acuhnya kita menggabungkan sampah basah dan kering.  Dan kita menutup mata dari apa yang selanjutnya terjadi di luar rumah kita.

Kita cenderung abai dan tidak peduli terhadap apa yang terjadi dengan limbah rumah tangga yang kita hasilkan.  Saya pernah lihat di Bandung, sampah menumpuk tinggi, membusuk, dan menebarkan bau yang tidak sedap.  Semata-mata karena banyak pihak, rumah tangga, pemerintah, masyarakat, tidak peduli terhadap masalah persampahan ini.

Jujur saja, kepedulian saya terhadap pemilahan sampah mulai tumbuh ketika saya menjadi konsultan humas untuk Unilever.  Saat itu saya bekerja di sebuah perusahaan konsultan hubungan masyarakat, Maverick, dan dipercaya untuk menangai komunikasi publik dari beberapa program tanggung jawab sosial Unilever.

Sebagai bagian dari program CSR-nya, Unilever memberdayakan masyarakat untuk beralih ke teknologi pengolahan sampah domestik secara sederhana.

Nah, berbekal dari pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman mereka di Desa Jambangan, Surabaya, saya mengembangkan teknologi sederhana pembuatan kompos melalui pengolahan sampah rumah tangga di rumah saya.

Pasalnya, selain untuk mendorong gaya hidup hijau, saya juga selalu dipusingkan oleh sampah yang menumpuk di depan rumah menunggu diambil oleh tukang sampah yang sering wanprestasi.  Tumpukan daun-daun kering yang membusuk dan sampah rumah tangga yang menimbulkan bau yang tidak sedap sungguh benar-benar menggangu hidup saya.

Sebagai awal, saya mulai memisahkan semua sampah organik dan sampah non-organik di rumah.  Sampah organik dikumpulkan dalam satu tempat tersendiri.  Kemudian dikumpulkan dalam wadah pembuat kompos.

Ketika sampah organik sudah penuh terkumpul dalam wadah ini, saya menuangkan larutan fermentasi yang terdiri dari larutan EM4 untuk tanaman, air, dan gula pasir.

Satu minggu kemudian, jadilah kompos yang siap untuk dipakai.  Kompos ini bisa segera ditebar untuk menyuburkan tanaman di kebun.

Volume sampah rumah tangga yang tidak terolah menurun drastis.  Bak sampah di depan rumah saya hanya terisi oleh sampah-sampah non-organik dalam jumlah terbatas, seperti plastik dan kardus yang dalam sekejap sudah diambil oleh pemulung untuk dijual kembali.

Pernah satu kali saya lihat wajah pemulung yang berseri-seri mengambil satu kantong plastik penuh dengan sampah non-organik di depan rumah saya.  “Kalo gini kan enak, soalnya saya nggak perlu lagi nyuci ama ngejemur plastik yang bau busuk karena kecampur sampah”, ujarnya.

4 Responses

  1. voila ono! ini kah yang dinamakan CS Leadership? huehuehue..

  2. alit: hehehe, personal responsibility ini :D thanks to Mbak Okty dan Jambangannya…

  3. salam mas,
    numpang tanya mas,
    saya di Payakumbuh,sumatra barat.dimana saya bisa mendapatkan em4 di sini?
    trims.

  4. bisa di infokan lebih rinci mengenai cara pembutannya… tks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.