Cordoba merupakan tempat yang penting untuk dikunjungi di Spanyol. Kota ini merupakan pusat pemerintahan peradaban Islam di Eropa. Tahun 756 Abdul Rahman I memegang tahta kekuasaan wilayah Al-Andalus. Ia mengawali masa gemilang peradaban Islam di Eropa. Ia memproklamirkan dirinya sebagai Amirul Cordoba.
Populasi Cordoba saat itu melesat hingga lebih dari 300.000 jiwa. Lebih dari 800 masjid dibangun. Masa gemilang dari sejarah Islam yang masih berbekas hingga saat ini adalah ketika Al-Hakim II menguasai Cordoba pada tahun 961-976. Pada saat itu, lebih dari 250.000 teks diperkenalkan kepada Eropa - termasuk filsafat Yunani yang menjadi fondasi peradaban Barat modern. Komentar Ibnu Rusyd dan Ibnu Sina atas filsafat Plato, Aristoteles, dan filsuf Yunani lainnya juga di terjemahkan pada masa ini.
Angka ‘Arab’ juga diperkenalkan di jaman ini. Ini adalah masa dimana bangsa Eropa mengenali angka nol (0). Angka nol memberikan akses kepada bangsa Eropa untuk memahami matematika dan astronomi secara lebih komprehensif.
Empat jam perjalanan dari Madrid dengan kendaraan harus ditempuh jika kita ingin mengunjungi Cordoba. Bisa juga dengan kereta supercepat Ave. Hanya saja harganya cukup menguras kantong.
Begitu tiba di Cordoba, saya langsung menuju situs historis Mezquita. Ada suasana yang berbeda ketika saya menginjakkan kaki di kota ini. Hampir tidak percaya rasanya bahwa saya berada disebuah tempat yang amat sangat bersejarah, dan sangat berpengaruh pada hidup kita semua saat ini.



Entahlah, mungkin terlalu berlebihan, tapi tanpa Al Hakim II, tidak akan pernah bangsa Eropa mengenal filsafat Yunani dan matematika. Dan tanpa filsafat Yunani, tak akan pernah ada sejarah modern Eropa. Ini yang membuat bulu kuduk berdiri.
Mezquita adalah masjid di masa peradaban Islam yang terkenal dengan arsitektur yang unik. Langit-langit yang dihiasi oleh lengkungan (arc) unik yang berwarna merah-putih berselang-seling dan ditopang oleh pilar marmer menghiasi interior Mezquita. Jumlah yang luarbiasa banyaknya membuat siapapun yang datang ke masjid ini menjadi tercengang.


Ketika Cordoba jatuh ke pangkuan penguasa Kristen di Spanyol pada tahun 1010, masjid Mezquita diubah menjadi katedral, hingga saat ini. Pintu masuk mesjid ditutup dengan bata. Tapi yang menarik, di dalam katedral Mezquita, kita masih bisa melihat mihrab yang masih utuh dan dirawat dengan baik.

Konon di masa para khalifah Cordoba, bangsa lain diperlakukan dengan sangat baik. Ada bukti-bukti dimana khalifah Cordoba memperlakukan bangsa Yahudi dengan niat yang baik. Bahkan di masa Abdul Rahman III, ada seorang Yahudi dijadikan menteri keuangan dalam pemerintahannya. Namun niat baik mungkin tidak dimiliki para Almorahid dan Almohad yang berasal dari Afrika Utara. Mereka yang baru saja memeluk agama Islam bertindak kasar dan keras, serta mengusir Yahudi keluar dari wilayah Al-Andalus.
Ah, sayang sekali. Memang butuh niat baik di belakang agama. Tanpa niat baik, agama hanya menjadi senjata yang mematikan.
Kabarnya makanan khas Spanyol, paella, pun merupakan satu dari sekian banyak ragam hidangan Al-Andalus. Paella adalah hidangan nasi yang berwarna kuning dan biasanya disajikan dengan berbagai macam seafood, terutama udang, cumi-cumi, dan lobster.
Banyak perdebatan tentang asal muasal makanan ini, tetapi, ada beberapa spekulasi yang mengatakan bahwa paella sesungguhnya merupakan makanan ’sisa’ pesta para raja Moor. Para pembantu raja dahulu mengabungkan dengan makanan sisa pesta dengan nasi sebagai lauk untuk dibawa pulang.
Penggunaan bumbu safron berwarna kuning dalam paella juga nampaknya dibawa oleh bangsa Moor ketika menguasai dataran Iberia.
Yang membuat saya senang, sepertinya ada niat baik dan kejujuran dari para penjual paella di Spanyol. Ada konsistensi antara gambar dan hidangan yang disajikan kepada para pelanggan.


Lain ceritanya di Singapura ketika saya makan siang di Takashimaya food court. Saya tergoda oleh gambar hidangan ikan mackarel yang diiklankan. Namun, setelah disajikan, ternyata hanya kekecewaan yang membekas!


Posted in Uncategorized