Segera setelah rapat di Inggris selesai, saya menyempatkan diri untuk mengambil sisa cuti saya tahun ini untuk berlibur di Eropa. Tujuan utama saya adalah Spanyol. Liburan kali ini pun sudah saya rancang secara tematik, bukan sekedar liburan biasa, tetapi sebuah liburan arkeologis, dan tentunya - kuliner.
Mengunjungi situs-situs bersejarah, terutama peninggalan peradaban Islam, di Spanyol menjadi prioritas utama liburan saya di negara yang cantik ini. Saya juga berencana untuk mencoba makanan khas Spanyol seperti Paella, Tapas, dan Tortilla.
Islam, seperti yang kita tahu, pernah berada di Spanyol sejak tahun 711 hingga 1492. Tak mengherankan jika peninggalan peradaban Islam tersebar di hampir sebagian besar penjuru Spanyol, utamanya di daerah yang dahulu disebut Al-Andalus.
Tiga bacaan pemandu pun sudah saya siapkan untuk kunjungan ke Spanyol kali ini: A History of Civilisation oleh Fernand Braudel, The Tales of Alhambra yang ditulis oleh penulis dan diplomat Amerika yang hidup di tahun 1829 di Granada, Washington Irving, dan tentunya buku panduan wisata Spanyol. Saya memilih panduan yang disusun oleh Discovery Channel, karena memiliki penjelasan historis yang cukup memadai untuk seorang pelancong awam seperti saya.
Nah, agar perjalanan jauh lebih berkesan, saya mengambil rute yang unik. Alih-alih terbang, saya menggunakan kombinasi rute laut-udara. Lebih murah dan nyaman.

Berangkat dari stasiun Liverpool Street di London, saya menggunakan kereta menuju pelabuhan Harwich International yang berada di sebelah timur Inggris. Di sana, Ferry Stenaline yang sudah saya pesan dari Jakarta melalui internet, menunggu untuk berlayar ke Hoek van Holland di Belanda.
Stasiun Liverpool Street sedang ramai hari itu. Penuh orang berlalu lalang menuju platform tempat kereta tujuan masing-masing diberangkatkan. Banyak juga orang yang bergegas keluar dari kereta dan menuju stasiun underground yang menghubungkan stasiun Liverpool Street dengan jaringan transportasi bawah tanah kota London.

Setibanya di Harwich International, saya langsung menuju ke kapal. Kapal Stenaline ini bersih dan terang. Stafnya pun cukup ramah. Mereka menyapa penumpangnya satu per satu. Ternyata kamarnya sangat menyenangkan. Ruangannya cukup lapang. Ada double-bed dengan televisi. Kamar mandinya pun bersih dan tersedia shower air panas. Langsung saya bersih-bersih, mandi dan istirahat, merebahkan diri di tempat tidur setelah satu hari penuh lelah menempuh perjalanan darat dari Oxford menuju stasiun Harwich.


Ditengah malam, saya terbangun dan baru tersadar bahwa kapal ini sudah berjalan. Beruntung, ombak malam itu tidak terlalu besar. Sehingga saya kembali lelap terbuai bak dalam ayunan.

Perut saya keroncongan saat kapal bersandar di pelabuhan Hoek van Holland pukul 8 pagi. Sayang sekali, karena kelelahan, saya melewatkan sarapan yang tersedia di kapal satu jam sebelum merapat. Ah, biarlah, lagipula saya masih harus membayar sarapan karena biaya kamar dan penyeberangan belum termasuk makanan.
Ada suasana yang familiar ketika saya menginjakkan kaki di Belanda. Banyak terdengar disana sini Bahasa Indonesia dengan aksen Maluku dituturkan. Penyerapan kata-kata Bahasa Belanda dalam Bahasa Indonesia pun banyak mempermudah saya untuk menebak-nebak arti dari sebuah pengumuman publik.
Menggunakan kereta, saya berangkat menuju Den Haag. Sepanjang perjalanan saya melongok ke setiap stasiun yang dilewati, mencari vending machine kroket dan frikandel yang menjadi khas Belanda.


Berbeda dengan Inggris atau negara-negara Eropa Barat lainnya, di Belanda mudah ditemukan vending machine yang menjual berbagai macam kudapan hangat yang juga lazim disajikan di Indonesia. Kroket salah satunya.
Vending machine ini biasa ditemukan di stasiun kereta atau di tempat ramai lainnya. Biasanya dengan menggunakan koin 1 Euro, kita sudah bisa mendapatkan makanan kecil hangat. Benar-benar membantu untuk mengganjal perut, dan sekaligus memanjakan lidah.

Setibanya di stasiun Den Haag Centraal, saya langsung menuju sebuah sudut tempat saya pernah membeli kroket melalui vending machine ini pada kunjungan saya ke Den Haag tahun lalu. Ah, sayang, ternyata masih tutup. Rupanya ia hanya buka setelah jam 10an. Mungkin butuh waktu untuk memasak kroket dan frikandel-nya.
Frikandel juga kudapan yang layak dicoba. Bentuknya seperti sosis, tapi rasanya mengingatkan kita dengan perkedel. Mungkin yang dimaksud dengan perkedel di Indonesia sebenarnya mengacu pada frikandel.


Vending machine sepertinya memang tidak populer di Indonesia. Jarang sekali saya menemukan vending machine di Indonesia. Atau bahkan tidak ada. Selain karena alasan keamanan, mungkin orang lebih suka berinteraksi dengan penjaga warung yang bisa diajak bicara. Atau, mungkin biaya operasional vending machine jauh lebih mahal dari sebuah kios rokok kaki lima?
Ah, janggal rasanya membayangkan ada vending machine di Stasion Hall di Bandung yang menyajikan cireng!
Posted in Uncategorized