Akhir minggu kemarin saya diajak oleh teman saya makan di RM BBT.
Lokasinya di bilangan matraman, persis di sebelah sekolah Marsudirini. Bagi yang bersekolah di sini, tentunya tahu RM BBT. BBT itu singkatan dari Babah Tong. Entah mengapa ia tidak menggunakan nama Babah Tong. Padahal, menurut saya, jika ia kini menggunakan nama itu, nilai jualnya lebih tinggi.

Rumah makan ini menyajikan makanan yang sebetulnya banyak dijual di pinggir jalan: bakmi bakso dan bubur ayam. Namun karena rasanya yang nikmat, banyak mereka yang kembali datang ke rumah makan ini.
Konon si Babah yang dulu memasak langsung dan merintis rumah makan ini dari sebuah tempat kecil disana. “Babah dulu sering marah-marah kalau ada anak-anak berantem di depan warungnya”, kenang teman saya. Ia dulu sekolah di Marsudirini.
Tak lama kemudian pesanan saya datang. Yamien Asin Bihun Baso. Rasanya enak. Gurih.

Rumah makan ini pun tidak banyak berubah. Tetap seperti itu, bercat hijau, dengan meja dan kursi kayu bulat dengan lubang empat di dudukannya. Di atas meja tersaji berbagai macam kerupuk. Karena setiap hari diletakkan di atas keranjang plastik, pembungkus kerupuk ini sering berdebu. Membukanya jadi kadang-kadang harus dengan bantuan tisu untuk membersihkan jari-jari tangan.

Masih otentik. Tetap seperti ini dan tidak banyak berubah.
Babah dan istrinya tekun di belakang meja kasir melayani pelanggan yang tengah membayar. Tidak ada mesin kasir, tidak ada safety deposit box. Istrinya Babah hanya menggunakan kalkulator dagang untuk membantu menghitung jualannya.
“Mbak, toiletnya dimana?”, tanya saya kepada seorang pelayan.
Sambil sibuk membereskan mangkok dan gelas yang sudah kosong, pelayan tersebut menunjuk ke arah belakang warung.
Pemandangan jadi kumuh ketika saya melewati kasir menuju. Di sebelah kanan saya ada seorang yang tengah mencuci mangkok-mangkok dan gelas kotor. Tempat cucinya dibawah. Ini sebetulnya pandangan yang biasa, dan malah kadang-kadang jadi bahan bercandaan saya dan teman-teman.
Teman kuliah saya dari Thailand, pernah suatu ketika tertawa ketika saya bilang rumusan utama dari makanan enak adalah: “the dirtier, the better”. Ia menyetujuinya. Di Thailand juga serupa. Makanan yang enak justru makanan yang berada di pinggir jalan. Yang entah dari mana asalnya, bagaimana mengolahnya, tak tahu bersih atau tidak.
Kalau sudah bicara Thailand, selain makanannya, rasanya yang lekat di ingatan saya itu justru film-film horornya. Hantu di film horor Thailand itu serupa dengan cerita-cerita hantu yang ada di Indonesia. Jadi kita bisa dengan mudah relate dengan filmnya.
Konon di kantor tempat saya bekerja sekarang juga ada hantunya. Ada banyak karyawan yang pernah punya pengalaman
“Waktu itu, gue ngelihat ada orang pake baju putih, rambut panjang terseok-seok naik tangga…”, seorang rekan kerja menceritakan pengalamannya.
“Kalo gue, pernah ngajak ngomong penampakan temen kantor yang ternyata orangnya sebenernya lagi ada di Kupang!”, rekan yang lain menceritakan pengalamannya ketika menyapa selamat pagi pada penampakan yang serupa dengan rekan kantor yang sedang bertugas di luar kota.
Aduh! Kantor saya memang mendukung pluralitas. Bahkan mempromosikan pluralitas. Tapi apa kita sudah siap dengan pluralisme antar dimensi?
Hiii…..
Posted in Uncategorized