Otentisitas di tengah serbuan Pocong

Adakah otentisitas di masa sekarang? Sepertinya kok otentisitas jadi barang yang mewah saat ini. Banyak hal bermunculan, tapi sepertinya ini hanya merupakan duplikasi atau revisi dari apa yang pernah ada sebelumnya. Walaupun terlihat baru, tapi sebenarnya banyak hal hanya merupakan “old wine in a new bottle”. Hanya kemasannya saja yang berubah.

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang kawan yang bekerja di sebuah rumah produksi. Kami berdiskusi tentang produksi film saat ini. Saya menggugat film dan sinetron yang terkesan saling membebek. Tidak otentik. Teriak-teriak dan mata mendelik. Kita perlu film dan sinetron yang bagus. Yang mendidik bangsa. Film dan sinetron yang bisa mengarahkan pikiran bangsa ini menuju ke tempat yang lebih baik. Tataran moral yang lebih tinggi.

Ia skeptis. Walaupun ia percaya The Social Construction of Reality-nya Berger dan Luckmann ada benarnya, tapi menurutnya dorongan terbesar yang nyata justru ada di pasar. Membebek jangan dibaca sebagai tidak kreatif. Tapi justru mengikuti keinginan pasar.

“Itulah sebabnya film pocong jauh lebih sukses dari pada film-film yang mendidik yang pernah dibuat”, ujarnya.

pocong2_800x600_n.jpg

Ia nampaknya percaya bahwa kita harus selalu mengacu pada pilihan pasar. Kita tidak pernah bisa berada di atas pasar. Suka atau tidak suka. Sesuai atau tidak sesuai dengan ‘idealisme’ kita.

Itu rahasianya jika mau sukses di dunia ini.

Waktu berlalu dan saya tenggelam dalam kesibukan pekerjaan saya. Saya tersentak ketika kelebat percakapan ini muncul kembali saat menunggu pesanan martabak di dekat kantor di suatu sore.Persis di sebelah kedai martabak, ada sebuah kedai bakmi godog yang terlihat ‘otentik’. Otentik karena masih menggunakan arang untuk memasaknya. Kesan otentik diperkuat dengan gerobak tua yang dipergunakan untuk meletakkan bahan-bahan masakannya. Ayam utuh yang digantung-gantung membuat kesan ini lebih mengemuka.

Ah, masih ada yang memasak dengan cara ini. Bapak tua ini masih mempergunakan arang untuk memasak bakminya.

“Lebih enak, Mas”, katanya.

Yang membeli pun banyak. Kelihatannya enak. Saya pun tergoda untuk memesan satu porsi bakmi godognya. Hmm, martabak bisa disimpan untuk kudapan malam.

page_1.jpg

Wah betul, enak!

Favorit saya adalah bakmi godog yang disantap dengan cabai rawit mentah gelondongan. Rawitnya dihancurkan dengan sendok makan di mangkuk. Pedasnya langsung merata di kuahnya.

Bapak penjual bakmi godog ini tampaknya tidak perlu belajar bisnis dan melakukan market research untuk bisa sukses. Cukup tekun dan otentik. Tidak perlu membebek. Punya modal tradisional yang kuat untuk dijual. Dengan hal-hal ini, ia menciptakan ribuan pelanggan fanatik yang akan selalu kembali ke warungnya.

Bakmi godog hanya sekedar ilustrasi dari sekian banyak kenyataan serupa yang ada di Indonesia. Mereka sepertinya hanya cukup mengerjakan apa yang mereka pandang sebagai hal yang terbaik, tekun, dan menjadi otentik. Mereka bisa menciptakan pasar sendiri.

6 Responses

  1. Analogi yang salah.. well kalo kita ngomongin makanan, kita ngomongi selera orang yang nggak akan berubah dan lingkupnya kecil banget. di jawa timur orang suka banget ama yang namanya petis dll.. di Sumatra.. siapa yang doyan petis..?? ada mungkin tapi dikit. pertanyaannya.. apakah bakmi godog itu akan laku di sumatra? di bali? di papua..??

    gw sendiri pernah cobain makan di restoran untuk ekspat yang menjual masakan indonesia. gw cobain gudeg jogja. rasanya sangat bukan gudeg, nggak berasa bumbu, nggak ada pedes2nya.. ya karena disesuaikan ama lidah para ekspat itu.. yang rata2 nggak suka ama bumbu yang berlebih..

    Beda ama film.. pasar yang mau di “jajah” lebih luas.. jadi kita harus tau selera pasar mayoritas, bukan selera suatu daerah saja.

  2. Eh keren loh comic life-nya….boleh juga dong traktir bakmi godog kapan-kapan….

  3. august: kok serius banget ya?
    ijul: boleh, boleh… di ampera ada yang enak juga lho!

  4. tulisan lo juga serius….

  5. hmm.. review kuliner yg ini bikin ngiler! slruup..
    gmn klo review makanan ada alamatnya jg?! ;P

  6. suara mahasiswa: “plus harganya”.

Leave a Reply