Belum pernah kan makan bakmi goreng Jawa dengan mie berwarna hitam yang unik? Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke restoran Mie Item yang ada di Plasa Indonesia. Kabarnya, restoran ini milik seorang pakar kuliner Indonesia, William Wongso.

Restoran ini menyajikan berbagai macam menu mie. Termasuk juga pasta. Yang menjadi ciri khas outlet ini semua mie dan pasta-nya berwarna hitam. Hitam karena diberi tinta cumi-cumi ketika mie ini diolah. Istilah kerennya squid-ink noodle.


Sepintas lalu memang ada kekhawatiran tentang rasa amis dari tinta cumi-cumi yang digunakan disini. Namun setelah dicicipi, kehawatiran ini hilang samasekali. Rasanya justru gurih. Samasekali tidak amis.
Memang terasa beda dengan mie telur lainnya yang berwarna kuning. Ada sensasi tersendiri.
Cara mengolah mie atau pasta seperti ini memang sudah pernah saya lihat di banyak restoran italia. Mereka juga banyak menyajikan hidangan pasta yang diberi tinta cumi-cumi seperti ini. Ada hidangan seperti spaghetti yang menggunakan tinta cumi ini.
Tapi ketika mie tinta ini dipergunakan untuk memasak mie goreng Jawa, ini adalah inovasi. Invoasi yang serupa dengan mie ungu ketela yang pernah saya ulas di tulisan terdahulu. Inovasi yang tidak terelakan di jaman yang penuh kompetisi ini.
Bicara soal inovasi, saya jadi ingat kesan beberapa hari yang lalu ketika saya ikut mengunjungi festival Java Jazz di Jakarta. Festival tahunan ini selalu menghadirkan sejumlah musisi ternama dunia. Mulai dari Manhattan Transfer hingga Incognito.



Meski banyak bintang-bintang gemerlap di Jakarta Convention Centre, yang justru menarik perhatian saya adalah sebuah band muda baru, sangat muda bahkan, bernama RAN. Tiga personilnya sangat muda, dan tampak seperti baru lulus SMA. Walaupun demikian, mereka dapat menguasai panggung dengan baik, menyanyikan lagu-lagu dengan tutur bahasa Inggris yang bagus – sama sekali tidak terlihat aksen khas orang Indonesia. Bayangkan, di usia yang sangat muda, mereka bisa menghasilkan musik dan performance yang berkualitas. Tidak tanggung-tanggung, mereka perform di panggung besar yang juga dipergunakan oleh band senior D’Sound.
RAN bukan merupakan fenomena yang unik. Sekarang kita banyak melihat penulis-penulis novel muda belia yang sukses. Ada juga pebisnis yang di usia belia sudah meraup keuntungan yang banyak. Banyak DJ muda yang mungkin tidak berprestasi di kampus, tapi bersinar di lantai disko.
Nampaknya kita tengah melihat munculnya sebuah generasi yang kreatif, tahu apa yang dikehendaki, dan tahu dimana strong point mereka. Generasi mereka ini merupakan generasi yang tidak lagi dihantui kesempurnaan, dihantui tuntutan untuk menjadi bagus dan sukses di semua bidang. Generasi yang bebas berkespresi dimana mereka merasa nyaman.
Bagi yang ingat film Catatan Si Boy di dekade tahun 1980an mungkin paham apa yang saya maksudkan. Boy adalah gambaran pemuda Indonesia yang diidam-idamkan. Seorang yang sempurna. Indonesian dream. Kaya, baik hati, soleh, pandai, dan pintar. Diam-diam, ia menjadi acuan banyak orang di waktu itu.
Generasi sekarang tidak seperti itu. Generasi ini nampaknya lebih spesifik dan fokus. Memilih-milih dan memilah-milah tempat dimana ia bisa sukses.
Saya membayangkan sepuluh tahun yang akan datang, generasi ini akan menggilas generasi saya. Generasi saya yang selalu bingung dan tidak fokus. Generasi yang waktu dan energinya habis karena berusaha meraup semuanya. Generasi yang hanya bermimpi ingin mewujudkan Indonesian dream: sekolah tinggi, rajin beribadah, kerja di perusahaan asing di Sudirman, memiliki istri/suami yang cantik/tampan, setiap akhir pekan berjalan-jalan di mall dengan kereta bayi.
Ah, generasi saya perlu segera melakukan inovasi. Segera.
Filed under: Mall Restaurants, Uncategorized
hmm…
kok saya malah kurang suka yah melihat generasi saya sendiri??
>aneh…<
dalam hal spesifik dan tau apa yg kami mau mungkin benar.
tapi kadang saya merasa generasi saya korban pop culture bgt.
ga semua memang.
habis saya geregetan liat generasi saya yg pengennya jadi artis cuma karena males belajar.banyak loh Pak, tertarik pada dunia entertain karena easy money.jarang yg bener2 bisa dan berbakat di situ.akhirnya dunia entertain terasa sangat murahan.
untuk eksekutif muda mungkin lain cerita.
tapi yg mau saya highlight adanya pergeseran yg menganggap pendidikan dan hal lainnya tidak lagi penting. sedih.
ngomong2, Bapak terburu2 jadi salah eja ‘inovasi’ ya Pak?
hehe, iya, terlalu emosi untuk berinvoasi mungkin. sudah diperbaiki ejaannya. Thanks ya.
Hiks, jadi malu.
No, gue baru beli pasta yang item. Enaknya sauce-nya apa ya?
sauce apa aja enak kok.. dibuat mie goreng jawa juga enak lho…
Chef Ono, squid-ink black noodle is from Japanese cuisine … Nothing authentic there, like much else with Indo cuisine, “life here begins out there”
ah mas dandy… kalo dibuat bakmi goreng jawa ya jadi unik toh?
koreksi no: Mi Item, bukan punya William Wongso, tapi anaknya prempuan semua ber3. Yg ngasih nama si William, tadinya mau mereka namain Noir, tapi william keukeuh untuk kasih nama indonesia.Sampe dia ngejawab ketus di SMS, “namanya Mi Item, titik!”. Tapi emang lebih kena sih menurut gua:)
wah, thanks banget ya chy. gue malah gak tau tuh soal ini.
Wahhh udah pernah coba makan disini juga nih..
Emang enak yah, baru tau kalo ini punya anaknya William Wongso. Thanks yah buat infonya..