Ayam Tangkap dan Motif Kerja di NGO

Sedihnya menjadi manajer senior adalah bahwa hampir sebagian besar waktu kerja dihabiskan dengan urusan-urusan belakang meja. Mulai dari mengurusi budget, berakrab-akrab dengan sistem manajemen online organisasi yang disebut OPAL, hingga memikirkan strategi dan implementasi program. Sedikit sekali waktu yang dipergunakan untuk benar-benar mengimplementasi program-program di lapangan.

Dan bicara soal program, saat ini, saya sedang getol dengan evaluasi dan penentuan, serta pencapaian indikator sukses.

Agak keras saya soal satu hal ini. Selain perlunya kita menyusun indikator yang tegas, saya sekarang agak mempertanyakan sikap ‘santai’ para pekerja kemanusiaan yang seringkali disokong oleh dalih ‘work-life balance’. Kita perlu lebih kerja keras dan disiplin, dan berorientasi hasil. Hampir setengah penduduk Indonesia masih miskin. Masak negara yang kaya alamnya seperti ini terus-menerus menderita karena kemiskinan?

Tapi sejak awal harus juga disadari bahwa NGO itu bukan negara. Kita tidak boleh mengganti dan mengambil alih tugas negara. Disini tricky-nya. Ini yang membuat semuanya jauh lebih sulit. Working through others.

Ada hal yang menarik ketika saya berkunjung ke Aceh untuk melakukan wawancara untuk salah satu posisi disana. Ada satu pertanyaan yang menurut saya menarik.

Kami bertanya tentang motivasi kandidat untuk bekerja di NGO, bukan di perusahaan swasta. Sebagian besar kandidat memberikan jawaban yang mencengangkan. Menurut mereka, kerja di NGO itu lebih bebas, dan leluasa. Tidak seperti di perusahaan yang kaku dan ketat. Saya memandang jawaban tersebut dengan penuh curiga. Bebas dan leluasa itu jangan-jangan diterjemahkan dengan seenaknya menjadi lebih santai dan tidak berorientasi hasil. Karena ini yang sering terjadi.

Sepanjang perjalanan menuju makan malam di Cut Dek, sebuah warung Ayam Tangkap, saya merenungi niat dan motif para kandidat ini. Tak habis pikir saya dengan jawaban-jawaban yang meluncur mudah dari mulut para kandidat tersebut. Ah, semoga mereka tahu apa yang mereka ucapkan.

p2240010.jpg

Penat akal saya hilang ketika melihat hidangan Ayam Tangkap di saji di meja di depan tempat kami duduk. Sajian ini merupakan sajian khas Aceh yang sangat menarik. Potongan-potongan ayam kecil-kecil digoreng kering dan disajikan bersama sejumlah daun-daunan bumbu yang juga digoreng dengan kering.

 

 

 

p2240009.jpg

Saya tidak sempat melihat dan bertanya bagaimana cara hidangan ini dimasak, namun saya menduga ayam dan daun-daunan ini digoreng bersama-sama untuk memastikan aroma herbs meresap di dalam daging ayam yang sudah disiapkan. Ayam tangkap biasanya disajikan dengan hidangan pendamping. Ada gulai daging sapi yang kaya dengan rasa rempah-rempah khas makanan Aceh, ada juga emping dan bawang merah yang diacar.

p2240004.jpgp2240005.jpg

Beberapa orang menamakan hidangan ini sebagai ayam sampah. Tanya sana sini, rupanya karena seperti mencari bongkahan ayam didalam sampah daun kering.

Nama ayam tangkap pun mengundang tanya. Mungkin karena kita harus ‘menangkap’ lezatnya ayam ditengah tumpukan daun? Entah lah apapun namanya, hidangan ini benar-benar lezat.

5 Responses

  1. kok ga ada foto peserta makan2nya? :D
    Mahdi, Dewi, dan Saiful. hehehe, mestinya ada duonk No.

    Kerja di NGO lebih leluasa mungkin apa ya, lebih leluasa untuk kasih ide-ide kali ya. Tapi kalau bicara masalah birokrasi si, sama aja..

  2. iya nih, hehee. waktu itu lupa diambil. next time, kalo kita makan bareng lagi, pasti dimuat juga foto2nya ya…

  3. no, ya bener kerja di NGO leluasa..maksudnya bisa leluasa kemana2 makan enak kayak elo ini..he..he..nice posting…

  4. kayanya pakar banget mas soal kuliner..tertarik jadi pembawa acara kuliner ngga?? hehehehe nice posting!

  5. Aku tadi ngiranya ada makanan bernama “NGO”, eh ternyata makan sambil mikirin NGO, hehehe….

    Asiknya di NGO juga adalah makan bisa diklaim ke kantor. Itu dengan catatan sambil kerja atau ngundang rekan kerja sambil makan.

    Jadi, selama di Aceh itu punya makanan kesukaan apa, mas Ono? Ayam tangkapnya? Kalo aku sih bebek gulainya. Ciammiikk. Apalagi yang dimasak sama orang Sigli…..oh la la…

Leave a Reply