Setelah memberikan pelatihan komunikasi di kantor Jogja minggu lalu, minggu ini saya mengikuti rapat manajer senior kantor saya yang kali ini diselenggarakan di Bali. Kami rapat di Hotel Rama Beach, di kawasan Kuta. Tempatnya lumayan bagus karena baru direnovasi, tetapi hujan deras yang mengguyur Bali secara terus menerus dalam beberapa terakhir, membuat beberapa tempat di dalam hotel menjadi tergenang. Sungguh tidak nyaman! Dari kamar ke restoran, atau menuju ruang rapat, saya harus berbecek-becek.


Manajemen hotel memang berusaha keras untuk mengeringkan banjir lokal ini, tapi saya tidak mendengar permintaan maaf sedikitpun yang biasanya disampaikan melalui sebuah surat dari General Manager yang disampaikan ke setiap penghuni kamar. Kami berusaha memahami ini dan tidak mengajukan komplain ke manajemen hotel.


Namun titik baliknya adalah ketika check-out. Rupanya dua payung yang disediakan di kamar jumlahnya hanya satu ketika saya check-out. Saya memang pernah meninggalkan satu payung yang saya pergunakan di restoran ketika sarapan pagi. Tapi kemarahan saya memuncak ketika saya diminta menandatangani pernyataan bahwa saya meninggalkan payung di restoran.
Saya kok diperlakukan seperti maling! Saya jadi ingin tahu, apa mereka akan memperlakukan hal yang sama jika ini terjadi pada bule? Kontan saya langsung menulis surat komplain ke manajer hotel tersebut. Rasanya berat jika saya harus datang untuk kembali tinggal di hotel ini.
Kembali ke rapat manajemen senior. Topik rapat yang menarik perhatian saya adalah seputar evaluasi kerja program-program organisasi di tempat saya kerja. Saya memang selalu concern dengan kontrol kualitas program kerja organisasi non profit. Karena ukuran capaian program kerja kami tidak sejelas organisasi profit, organisasi non profit cenderung mengukur sukses lewat apa saja yang telah dilakukan. Padahal seharusnya bukan seperti ini. Harusnya melalui ukuran dampaknya. Sulit, tapi harus seperti ini.
Saya jadi sangat excited ketika Oxfam mempertegas komitmennya untuk meningkatkan kualitas programnya melalui peningkatan monitoring and evaluation. Secara global pun, mengikuti panduan dalam mengembangkan sebuah strategi perubahan yang jelas pun menjadi wajib. Bagi saya, kualitas program organisasi non profit harus juga diukur secara ketat seperti halnya organisasi profit. Hasil rapatnya cukup memuaskan. Kami kini memiliki proses ‘kontrol kualitas’ melalui serangkaian proses yang harus diikuti oleh setiap program. Setiap tahun, kami akan juga mengevaluasi dampak yang dicapai oleh program Oxfam di Indonesia. Proses ini akan dipergunakan sebagai pembelajaran Oxfam untuk menyesuaikan rancangan program di kemudian hari. Saya sangat berharap agar inisiatif ini dapat berjalan dengan baik.
Setelah rapat usai, saya bersama rekan-rekan kantor langsung menyerbu toko seni (art shop) Unagi. Ini seperti supermarket produk kerajinan tangan. Wah, saya mborong untuk rumah dan keluarga. Tempatnya sangat direkomendasikan.

Ingat ketika saya mengulas bubur kepiting Warung Laota beberapa waktu yang lalu? Setelah berbelanja, kami datang lagi ke tempat ini untuk makan malam. Kali ini, selain bubur kepiting, kami memesan bebek panggang, dan sup kepala ikan kerapu. Bubur kepitingnya kali ini lebih istimewa, karena rupanya kepiting yang dipergunakan adalah kepiting yang tengah bertelur. Sehingga, buburnya tampak cerah dengan telur kepiting yang tesebar dan rasa yang lebih gurih. Begitupula bebek panggangnya, kombinasi dengan saus plum-nya membuat daging gurihnya semakin terasa nikmat.


Gongnya adalah sup kepala ikan kerapu. Penyajiannya menarik. Tampaknya setelah direbus, kepala ikan kerapunya digoreng kering terlebih dahulu sebelum disajikan. Sehingga, kami disuguhi semangkuk besar kuah dengan kepala ikan kerapu dengan tahu sutera yang disajikan terpisah.


Ah nikmat! Dan, karena mereka benar-benar bisa menjaga kualitas produknya, jelas saya akan datang kembali ke warung Laota yang menyenangkan ini.
Filed under: Domestic Trips, Street Hawkers, Uncategorized