Malang-Bromo Trip #3: Toko Oen Malang, Asam Urat, dan Nasi Punel Bangil

Ah, sesaat serasa menjadi sinyo Belanda.  Duduk di kursi rotan tua di kedai Toko Oen.  Kami sengaja singgah di tempat bersejarah ini untuk mencari es krim dan bistik lidah sapi yang memang merupakan sajian khas dari restoran yang sudah terkenal sejak tahun 1930.

 p2160138.jpgp2160129.jpg 

Belum ke Malang, katanya, jika tidak singgah di Toko Oen.  Toko yang mempertahankan keindahan bangunan kolonial di tengah-tengah kota Malang ini rupanya terkenal di kalangan turis mancanegara yang ingin bernostalgia di dataran tinggi pegunungan Semeru ini.  Tak mengherankan jika banyak orang-orang asing yang berusia lanjut ketika kami datang ke Toko ini. 

Begitu tiba, kami memesan es krim banana split dan bistik lidah.  Sambil menunggu pesanan kami datang, kami mengambil beberapa gambar dan mengabadikan kunjungan kami kesana.  Wow! Kami takjub ketika pesanan datang.  Bistik lidah sapinya sungguh menggiurkan.  Pisau makan yang saya pergunakan dengan mudah mengiris daging lidah yang empuk dan lembut.  Irisannya nyaris tanpa tenaga sama sekali! 

Saya kemudian mengecap potongan bistik tersebut dengan perlahan-lahan.  Ah, aroma dan rasa lidahnya sungguh menyenangkan.  Enak sekali.  Sungguh lembut dan lezat.  Toko Oen juga terkenal karena es krimnya.  Ketika dicicipi, terasa sekali bahwa ini home-made.  Benar-benar luar biasa.

p2160136.jpg

 p2160132.jpg

Sesaat saya terlupa bahwa satu minggu yang lalu saya divonis menderita asam urat “normal tinggi” oleh dokter.  Masih bisa dibilang ‘normal’, tapi cukup tinggi.  Sehingga sudah boleh dibilang sangat dekat dengan lampu merah. Memang gejalanya belum sampai bengkak di persendian.  Tapi bahu sudah sering terasa kaku-kaku.  Bahaya! 

Jeroan jelas merupakan pantangan utama dan harus dihindarkan.  Tapi saya kadang-kadang bandel, apalagi kalau sudah melihat makanan lezat seperti ini.  Untuk membuat jadi netral, saya memesan segelas jus sirsak.  Konon sirsak dapat membantu untuk menurunkan kadar asam urat.  Begitupula dengan minum air putih yang banyak. 

Bicara soal asam urat, saya lumayan tercengang ketika kami pulang dari Bromo melalui Pasuruan.  Kami mampir di tempat jualan makanan khas kota Bangil.  Namanya Nasi Punel.  Ini adalah seperti nasi rames, namun lauk yang disajikan adalah berbagai macam jeroan yang di-‘ungkep’.  Semua ada.  Mulai dari ginjal sapi, paru-paru, jantung, dan usus. Konon nasi punel yang terkenal berada di depan STO Telkom Bangil.  Namanya nasi punel Bu Haji Lin.  Waktu kami sampai di tempat ini, warung Bu Lin memang dipenuhi pengunjung. 

 p2170222.jpgp2170223.jpg  

Karena penasaran kami mecoba untuk memesan sepiring nasi punel.  Wah, begitu masuk ke dalam warung tersebut, bau tajam jeroan menusuk hidung.  Dua orang ibu sibuk meracik nasi dengan jeroan tersebut.  Dengan tangan kosong, si ibu mengais-ngais wadah besi yang berisi jeroan matang dan dipindahkan satu per satu ke wadah makan si pembeli. Saya memesan nasi punel dengan paru.  Parunya enak.  Disajikan dengan telur asin yang lezat dan rebung (bambu muda).  Ada juga sate kerang dan irisan kacang panjang. Melihat kondisi warung dan aromanya yang kurang mendukung, kelihatannya nasi punel lebih enak disantap jika dibungkus dan dibawa pulang. 

  p2170231.jpgp2170229.jpg

Dengan menu makanan yang demikian, saya jadi bertanya-tanya tentang kesehatan masyarakat di daerah Bangil.  Jangan-jangan semua menderita asam urat ! 

Ini menarik.  Karena di beberapa negara maju, khususnya di Eropa, wacana tentang hidup sehat jadi populer karena besarnya biaya kesehatan yang harus ditanggung negara akibat pola makan yang tidak sehat masyarakatnya.  Jika masyarakat hidup lebih sehat, uang yang dipergunakan selama ini untuk merawat masyarakat yang mengkonsumsi makanan secara sembarang dapat dipergunakan untuk kepentingan lain.   Di negara berkembang, wacananya memang belum sampai kesana, karena pelayanan kesehatan menyeluruh pun masih belum ada, tapi bisa jadi relevan dan masuk akal di kemudian hari. 

Jadi, jika di Bangil pendidikan dan kesehatan disediakan gratis, jangan-jangan anggarannya akan membengkak untuk membeli allopurinol dalam jumlah besar!  

4 Responses

  1. kok ga ada foto di bromo yang kayak lebah itu? yang kuning-hitam-kuning-hitam? wehehehehehehehe…

  2. [...] irisan Lidah Sapi-nya pun lebih tipis bila dibandingkan dengan Toko Oen.  Lebih empuk pula.  Gravy-nya juga enak.  Sepertinya waktu yang dipergunakan untuk memasak [...]

  3. good blog.

    secret1704.blogspot.com

  4. laper………

    joint aku di secret1704.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.