Malang-Bromo Trip #2: Bakwan Padang Pasir

Pagi-pagi buta kami berangkat dari Hotel Bromo Cottages di Tosari menuju Gunung Pananjakan.  Cukup banyak turis asing yang ikut dengan rombongan kami.  Ada yang dari Jerman, Perancis, Belanda dan Portugis.  Mayoritas memang dari Belanda.  Mungkin ada ikatan historis antara keluarga mereka dengan tempat-tempat wisata di Indonesia yang memang sudah ada sejak jaman penjajahan dahulu. Sayang seribu sayang.  Ketika sampai di Gunung Pananjakan, kami tidak dapat melihat matahari terbit karena kabut yang cukup tebal.  “Nanti datang lagi waktu musim panas, mas.  Lebih cerah dan bisa lihat matahari terbit”, ujar sang pemandu wisata. 

Apa boleh buat.  Kami lalu berlanjut menuju Kawah Gunung Bromo melalui padang pasir.  Di tengah padang pasir, kami mengambil foto-foto. 

p2160198.jpg p2160203.jpg 

Nah, ketika seorang teman tengah mengambil foto, kami tak sengaja melihat ada seorang penjual bakwan yang lewat.  Perut lapar karena belum sarapan langsung mengambil alih kesadaran.  Kontan kami langsung memanggil-manggil. 

 p2160205-arrow.jpg

Wah, tiba-tiba suasana jadi ‘aneh’.  Di tengah padang pasir di Bromo, kami jajan bakwan malang.  

  p2160207.jpgp2160210.jpgp2160209.jpg 

Bakwannya memang tidak terlalui istimewa.  Basonya penuh kanji.  Bakwannya pun terasa hambar.  Tapi yang istimewa justru momentumnya!  Bakwan Padang Pasir! 

Kami juga tidak terlalu kecewa dengan rasa bakwan yang satu ini karena sehari sebelumnya Bakso Kota Cak Man sudah kami kunjungi.  Walaupun Bakso Kota ini ada juga cabangnya di Jakarta, rasa dan variasi bakwan yang disajikan ternyata berbeda.  Di Malang, variasinya lebih kaya.  Pilihannya jadi lebih banyak.  Dus, lebih nikmat!

 p2160121.jpg 

Jika melihat semua ini, Indonesia sesungguhnya memiliki potensi pariwisata yang luar biasa besarnya.  Pernah saya berpikir, mungkin seharusnya negara kita ini menjadi negara wisata.  Industrialisasi semasa Orde Baru tidak berlanjut.  Saat reformasi, usaha untuk kembali ke pertanian, melalui revitalisasi pertanian, pun terlihat tertatih-tatih. Dari sisi keberagaman dan daya tariknya, Indonesia harusnya jauh lebih kompetitif dibandingkan negara tetangga yang mengandalkan pariwisata sebagai salah satu sumber utama pendapatannya seperti Thailand.   

Jika pariwisata ingin dikembangkan sebagai driver pembangunan perlu banyak hal yang harus diperbaiki.  Infrastruktur pariwisata, mulai dari perbaikan lokasi dan akses menuju lokasi wisata, hingga dukungan dan penataan peraturan pemerintah yang mendukung pariwisata.  Perangkat lunaknya pun harus ditingkatkan kualitasnya.  Ini termasuk keterampilan yang harus dimiliki oleh para pemandu wisatanya.  Beasiswa untuk sekolah bahasa, misalnya, harus disediakan pemerintah.

Yang terakhir harus dilakukan adalah promosi ke luar negeri.   

Gaung Visit Indonesia 2008 saat ini memang harus dihargai.  Portal ini menjadi informasi terpadu untuk pariwisata Indonesia.  Tapi, kita butuh lebih dari ini.

3 Responses

  1. gua jadi inget pernah mampir ke Bromo, 2 taun lalu, bareng Yaya. bedanya, gua nemu bakwan padang pasir yang rasanya enak banget. laper kali, setelah bangun pagi liat sunrise (gagal tapi, mendung) dan berkuda. tapi buat gua, saat itu….bakwan padang pasir enak tenan! coba deh, kalo bener-bener laper…

  2. aaah jadi laparrrrrr

  3. foto yang pegang kepala di atas mirip foto model aneka yess! :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.