Malang-Bromo Trip #1: Mie Ungu Ketela

Setelah dua hari sibuk dengan pelatihan komunikasi untuk tim humanitarian di Jogjakarta, saya bersama teman-teman lama memutuskan untuk pergi ke Malang dan Bromo, serta menghabiskan akhir pekan di tempat peristirahatan di Bromo.  Kami akan tinggal di daerah Tosari, Bromo Cottages. 

Sabtu pagi buta itu saya berangkat dari hotel tempat tinggal saya di Jogja.  Selisih satu jam, teman-teman saya berangkat dari Jakarta langsung menuju Surabaya.  Kami berencana untuk bertemu di Airport Juanda, Surabaya. 

Saya terbang menggunakan Wings Air.  Ini kali kedua saya terbang dengan Wings Air.  Yang pertama, saya ketinggalan pesawat.  Karena delay, dan ketika saya kembali di jam yang dijanjikan, ternyata pesawat sudah terbang.  Agak mengkhawatirkan juga sih terbang dengan Wings Air.  Ketika akan mendarat, saya melihat lampu kabin yang kelap-kelip seperti lampu yang rusak.  Agak deg-degan karena itu menunjukkan manajemen perawatan yang tidak teliti.  Ah, tapi saya tidak punya pilihan.

p2150068.jpg

Kira-kira pukul 8.20 pagi kami bertemu di Airport Juanda.  Begitu keluar, kami sudah dijemput oleh mobil dari hotel.  Dalam perjalanan menuju Bromo, pengemudi yang menemani perjalanan kami memberitahukan ada sebuah tempat makan menarik di Malang.  Tempat ini menyajikan semua jenis makanan yang berasal dari ketela (ubi jalar manis/sweet potato). 

p2160170.jpgp2160162.jpg

Tempatnya menyenangkan, luas.  Sayang, penataan etalasenya agak kurang menarik.  Tersusun rapi semuanya, tapi rasanya seperti masuk ke dalam gudang.   Yang disajikan beragam: mulai dari mie yang dibuat dari ketela, sampai bakpia dan bakpao ketela.  Kami penasaran.  Kami memutuskan untuk mencoba mie goreng ungu ketela, dan membeli beberapa kotak bakpia dan bakpao. 

Mie gorengnya lumayan enak.  Rasa ketelanya kental.  Pernah makan getuk lindri ?  Rasanya mirip, hanya tanpa manisnya.  Sayang, ada kesan hambar.  Mungkin sebaiknya dalam pembuatan mie-nya, juga ditambahkan bumbu-bumbu yang dapat membuat rasa gurih dan manis. 

p2160167.jpg

Selidik punya selidik, ternyata ini adalah hasil karya komunitas dengan pendampingan.  Coba lihat di sini.   

Ini yang dibutuhkan di Indonesia.  Agroindustri yang serius dan terpadu dari hulu ke hilir.  Alih-alih hanya sekedar menjual produk pertanian ‘mentah’, para petani dan masyarakat harus juga dibantu untuk mengenal dan mengembangkan industri olahan bahan mentah secara serius.   Ini agar mereka memiliki pendapatan yang lebih baik.  Dalam hal ini, Thailand sudah maju beberapa langkah dari kita.   Banyak yang harus kita kejar. 

Kapasitas mereka untuk dapat melibatkan diri dalam pasar juga harus ditingkatkan.  Membuka toko di pinggir jalan Malang-Surabaya dan menjadikan produk ketela sebagai obyek pariwisata adalah salah satu strateginya.  Akan jauh lebih baik jika mereka dapat mengekspor produk-produknya. 

Lagi-lagi kembali ke perhatian dan peran pemerintah.  Butuh kebijakan yang serius dan terpadu untuk memastikan adanya dukungan industri olahan bahan mentah dan akses petani ke pasar.       

2 Responses

  1. Wooouuuwwww keren……
    Trnyata ketela wungu dapat dimanfaatkan sbg pewarna alami yang dapat mempercantik hidangan…

  2. Di Jakarta ada nggak ya?

Leave a Reply