Suharto, Cumi, dan Menjadi Ayah di Indonesia

Mama Lauren benar (bila dibandingkan dengan yang lain, saya perhatikan dia ini peramal yang cukup ‘reliable’). Ada tokoh besar yang meninggal awal tahun ini. Ialah Suharto. Presiden Indonesia yang kedua. Ia adalah tokoh yang penuh kontroversi. Hingga akhir hayatnya, masyarakat dunia masih memiliki opini terbelah. Ada yang menganggapnya sebagai pahlawan, tapi ada juga yang menganggapnya sebagai penjahat.

Saya baru selesai berolahraga ketika mendengar berita meninggalnya Suharto. Saat itu, saya tengah membeli cumi-cumi di sebuah supermarket yang berada di sebelah tempat saya berolah raga. Cumi-cumi ini susah-susah gampang memasaknya. Bisa dibakar, tapi jika terlalu lama, maka akan menjadi sangat kenyal dan sulit untuk dikunyah. Jika kurang matang, ada resiko keracunan salmonella.

imag0268.jpg

Hari itu saya ingin cumi-cumi yang saya beli di-’ungkep’ dengan bumbu-bumbu (direbus di wajan hingga airnya habis menguap), dan kemudian digoreng kering. Dimakan bersama sambal terasi, ikan asin jambal roti dan sayur asam. Nikmat!

Untuk sesaat saya lupa dengan Suharto. Konsenterasi penuh saya ada dalam kecap demi kecap saat sedang mengunyah daging cumi yang gurih dan lembut ini.

imag0270.jpg

Sebetulnya saya sudah lama berpikir bahwa Suharto sesungguhnya memiliki banyak kemiripan dengan banyak orang Indonesia lainnya. Ia adalah seorang bapak untuk keluarganya. Oleh karena itu, prioritas hidupnya adalah untuk keluarganya. Ia adalah seorang ayah yang sangat sayang kepada anak dan keluarganya, sehingga apa pun akan diberikan kepada anak dan keluarganya. Termasuk negara ini.

Jujur saja saya sering melihat Suharto-suharto kecil di lingkup yang lebih mikro. Pernah saya dengar, demi masa depan anak-anaknya, seorang ayah, yang menjadi pejabat negara, memberanikan untuk menyalahgunakan secara terus menerus perjalanan dinasnya untuk mengunjungi sang anak yang sedang sekolah di luar negeri.

Di tempat lain, ada lagi seorang yang ‘terpaksa’ (secara terus menerus) melakukan mark up (dalam batas wajar, ujarnya) demi membeli susu bermerek, yang penuh dengan nutrisi tambahan, untuk anak-anaknya. “Gue nggak mau ngasih susu biasa, gue cuma mau ngasih susu ini, biar gedenya nanti dia pinter”, katanya.

Apa mereka semua berbaju dan menggunakan barang-barang yang mewah untuk dirinya? Yang saya tahu banyak yang tidak. Seperti layaknya Suharto, kekayaan untuk dirinya sendiri mungkin tidak ada. Ayah-ayah ini hanya mengumpulkan uang, juta demi juta, miliar demi miliar, triliun demi triliun, untuk kesejahteraan keluarga dan anaknya. Agar anak bisa berbisnis, sekolah di luar negeri, atau agar sang anak tidak lagi harus mengalami kesulitan hidup yang pernah dialami ayahnya.

Ada yang salah dari cara kita memandang dunia. Mungkin kita harus mulai menyadari perangkap instingtif ini. Perangkap dalam menjadi seorang ayah, pahlawan keluarga, yang melakukan apapun demi keluarganya.

Sadari dulu saja.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: