Tempe Ayam Suharti dan Bulog

Siang itu saya makan di restoran Ayam Goreng Suharti. Lokasinya tidak terlalu jauh dari kantor. Tempatnya pun cukup nyaman.

Tahukah anda bahwa ada dua versi gerai Ayam Goreng Suharti? Yang pertama adalah Ayam Goreng Suharti. Yang satunya adalah Ayam Goreng Ny. Suharti. Dibedakan oleh Ny. Ciri khas yang pertama adalah disetiap restorannya ada gambar seorang perempuan dengan pakaian khas Jawa. Sementara yang kedua tidak ada.

Konon kabarnya, ini adalah hasil harta gono-gini dari pasangan suami-istri yang memiliki gerai Suharti ini. “Jebakan Betmen”-nya adalah justru yang ada “Ny.”-nya konon milik suaminya!

Tentunya kami memesan ayam goreng khasnya. Tapi siang itu yang menjadi perhatian saya adalah tempe dan tahu gorengnya. Sambil berkelakar saya bertanya ke pelayan yang tengah menyajikan tempe ini, “Harganya ikut naik nggak, Mbak?”

imag0285_1.jpgimag0284_1.jpg

Si Mbak hanya mesem-mesem saja.

Rekan kerja saya, beberapa waktu yang lalu, menulis sebuah artikel yang menarik di harian Kompas. Menurutnya, ada beberapa pekerjaan rumah pemerintahan SBY-JK yang harus segera di wujudkan. Antara lain, stabilisasi harga bahan pokok.

Kondisinya memang mengkhawatirkan. Surat kabar sudah setiap hari kini memberitakan tentang harga kedelai yang tidak lagi bisa dikontrol.

Saya pikir rekan kerja saya benar. Harga komoditas utama harus distabilisaskan. Ini penting untuk kehidupan masyarakat kecil.

Tapi kini, ketika struktur tata hubungan negara dan pasar sudah berbeda, siapapun presidennya, pasti akan kelabakan jika menghadapi masalah ini. Saya pikir sulit untuk SBY-JK bisa dengan mudah menstabilisasi harga-harga kebutuhan pokok kita.

Pada masa orde baru, Presiden tinggal angkat telepon dan meminta Menko Ekuin untuk menyelesaikan masalah ini. Siapapun Menko Ekuinnya, ia tinggal memerintahkan rapat terbatas bidang Ekuin untuk membahas masalah ini. Hasilnya pun bisa ditebak: operasi pasar.

Saat itu sistemnya mendukung. Bulog punya otoritas penuh untuk menentukan dan memantau harga komoditas. Ada sebuah sistem yang memastikan dan menjamin ini. Berapapun biayanya untuk operasi pasar, pasti akan disediakan oleh pemerintah. Yang penting, harga komoditas tidak boleh lebih rendah dari patokan tertentu.

Kini berbeda. Semua diserahkan pada mekanisme pasar. Akibatnya, ketika harga kedelai menggila, masyarakat tinggal gigit jari.

Tantangannya sebetulnya adalah bagaimana kita menjembatani ini. Buruknya sistem yang diterapkan pada masa orde baru adalah kenyataan bahwa mekanisme ini sangat mahal. Belum lagi bicara soal korupsi dan penyelundupan ke luar negeri. Masalah subsidi untuk orang kaya pun juga menjadi dilema.

Kalau sudah begini, masalah sesungguhnyanya tidak hanya berada di dalam negeri. Tapi juga peran Indonesia di luar negeri. Selain kebijakan domestik yang kuat dan berpihak kepada yang miskin, politik luar negeri kita pun juga harus tegas dan konsisten dalam membela masyarakat Indonesia.

7 Responses

  1. “Jebakan Betmen”? Hey, that’s my word!hehehe

    wah,masih mending bisa dapet tahu tempe. Rabu lalu pas ke ayam goreng suharti yang-bergambar-ibuibu-berkebaya-dan-berkonde di wahid hasyim, si mbak-nya malah bilang tahu dan tempe ga tersedia.ck..ck..ck…

  2. slurrp jg kepengen bikin ayam goreng dan sambal bawang, btw, jeli jg ya ada ayam goreng suharti dan ny. suharti, enakan mana? atau sama aja? di sana masih lanjut ya krisis kedele??? di sini krisis bawang bombay akibat hujan di musim panas thn lalu, di Indonesia itu kok bisa krisis kedele yah? kasian loh pengusaha tempe dan tahu kalo gitu ya

  3. Tahu tempe di rumah sakit boromeus mah selalu tersedia meskipun gw harus makan itu2 lagi setiap hari.maklumlah namanya jg orang sakit.Hehehehe…
    tapi alhamdulillah stok tempe n tahu di Bandung tampaknya masih aman.dua komoditas yg membuat trombosit saya naik cukup signifikan.terima kasih kedelai!hehehe…

  4. Ayam Goreng Suharti memang enak..tapi harga aksesori makanannya yang mahal he..he..

    Sepiring kecil lalapan dihargai 8000 perak, dan sesendok sambal terasi harganya 5000 perak. Dua item yang terkadang disajikan gratis di rumah makan Sunda :) )

  5. gw baru tau ayam goreng Sharti & Ny. Suharti itu beda. kirain sama aja. ga taunya ternyata harganya juga beda2 lho!

  6. yang enak tentu aja ayam goreng yang gerai punya istrinya kl ngga salah ada gambar ‘ibu2′, suaminya itu ninggalin istrinya

  7. maknyusss…

    salam kenal…keep blogging

Leave a Reply