Idul Adha, Kornet Kurban, dan Pragmatis

Setiap tahun, Idul Adha selalu menjadi peristiwa yang istimewa untuk umat muslim di seluruh dunia. Di Indonesia, tradisi ini selalu diwarnai dengan pemotongan hewan kurban berupa kambing maupun sapi. Saking ramainya, semua seperti jadi ikut merayakan Idul Adha. Bahkan, harian Kompas pun memenuhi kolom opininya dengan berbagai tulisan dan komentar tentang makna Idul Adha. Setiap tahun temanya senada: pentingnya memahami makna sosial dari Idul Adha. Hanya saja disajikan dengan sudut pandang dan paparan yang berbeda-beda.

Sudah beberapa tahun belakangan ini saya selalu memilih untuk berkurban melalui Rumah Zakat. Alasannya sederhana. Mereka memilih cara yang non-konvensional untuk mendistribusikan hasil kurban: yaitu dengan mengkornetkan daging sapi dan kambing kurban. Dengan begini, penerima manfaat tidak harus langsung menghabiskan daging sapi dan kambing yang diperolehnya. Ia dapat menyimpan daging kornetnya sepanjang tahun. Lebih penting lagi, manfaat kurban bisa lebih dirasakan ketika terjadi bencana alam. Kornet kurban bisa dibagi-bagikan. Jika bencana alam terjadi – gempa, banjir, tsunami, gunung meletus – yang mutlak harus tersedia adalah: air bersih dan sarana sanitasi, tempat tinggal, dan makanan.

gambar-utama_01-imagemap_030.jpg

Kornet merupakan metode pengawetan daging yang awalnya populer di Irlandia, terutamanya disajikan ketika St. Patrick Day. Daging dicampur dengan ‘corn’ dan kemudian disajikan. Menariknya, ‘corn’ disini tidak mengacu pada jagung. Tapi ‘grains of coarse salt’. Garam. Jadi, corned beef adalah daging yang digaramkan. Ketika teknologi pengawetan ini masuk ke Indonesia disebutlah daging kalengan ini kornet. Memasak daging kornet memang tidak sulit. Cukup dengan dipanaskan saja, daging kornet sudah bisa dimakan. Biasanya kornet cukup dikukus, atau digoreng kering. Namun kornet juga bisa dijadikan campuran hidangan instan lain seperti nasi goreng atau indomie.

Menurut saya ini cerdas. Suatu terobosan, dan sebuah keberanian untuk menjadi pragmatis. Berani keluar dari kotak-kotak tradisi, bereksperimen dengan nalar dan sebuah contoh Indonesia berpikir!

Menjadi pragmatis dan keluar dari dogma dan kotak-kotak tradisi memang mungkin diperlukan saat ini di Indonesia. Memastikan bahwa segala sesuatu harus dikaji manfaatnya bagi masyarakat. Dan oleh karena itu memastikan bahwa daging kurban dapat diperoleh oleh kaum dhuafa selama satu tahun penuh adalah sebuah pragmatisme agama baru yang patut dilirik. Kita juga harus terbuka dan berlapang dada dengan mengakui bahwa ternyata tradisi Irlandia dapat juga bermanfaat untuk kesejahteraan kita.

Masak di jaman ini kita masih mau menjadi seperti seorang puritan?

4 Responses

  1. Wets!Akhirnya diupdate juga blognya.sayang nih dianggurin berapa lama tuh.sibuk bgt yah?
    Well anyway, welcome back!it’s good to read your good-quality-writings again.jadi pengen makan kornet beef nih.hehehe…
    btw, kritik aja dikit.teknis koq.size font-nya jangan kecil2 amat sob.rada puyeng bacanya.
    ok bro!all best!

  2. udah diganti nih, sekarang jadi gede :)

  3. eh bung..mantap nih blog elu jalan lagi…he..he

  4. apa sic manfaat kurban bagi orang muslim

Leave a Reply