Pengalaman hidup yang tidak akan pernah saya lupakan adalah ketika saya diundang makan siang bersama Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki Moon. Ini adalah sebuah makan siang istimewa ditengah-tengah pertemuan puncak PBB untuk perubahan iklim di Bali awal Desember 2007. Saya hadir mewakili Oxfam International. Oxfam menyelenggarakan kampanye untuk menunjukkan pentingnya kita semua peduli terhadap masalah perubahan iklim, karena masyarakat miskin terimbas secara dahsyat oleh masalah global ini. Oleh karena itu, meningkatkan kemampuan adaptasi masyarakat miskin harus juga menjadi prioritas negara-negara di dunia ini, khususnya negara maju dan PBB. Ini adalah pesan utama yang diamanatkan oleh Oxfam kepada Sekjen PBB.
Sekjen Ban Ki Moon yang mantan menteri luar negeri Korea Selatan ini sungguh bersahaja dan terlihat sangat peduli terhadap masalah perubahan iklim. Ia memiliki aura khas pemimpin Asia. Murah senyum, bicara dan memberikan jawaban seperlunya.
Saat itu kami dijamu di sebuah ruang VIP di restoran Jepang di Hotel Westin, Bali. Meskipun makanan Jepang merupakan salah satu makanan favorit saya, namun menurut saya, masakan Korea masih jauh lebih nikmat. Yang membuat nikmat adalah elemen cabai yang absen dalam banyak masakan dari Jepang. Untuk orang Jepang, wasabi mungkin sudah cukup pedas.
Beberapa minggu sebelum bertemu dengan orang nomor satu di dunia ini, saya dan teman-teman mengunjungi sebuah restoran Korea di bilangan selatan Jakarta. Restoran ini selalu dipenuhi oleh kalangan expat Korea yang ada di Jakarta.
Menunya sangat beragam. Tapi saya memesan yang paling menarik: sup kimchi dengan gurita. Rasanya asam pedas, sungguh segar. Cabai bubuknya terasa. Asam kimchinya pun juga menyatu dengan gurihnya kaldu dan gurita.
![]()
![]()
Yang membuat masakan Korea menjadi semakin eksotik adalah cara menyajikan sup ini. Siapa yang menyangka sang pelayan berdiri di sebelah meja, mengangkat gurita tinggi-tinggi dan menggunting-gunting gurita tersebut untuk dimasukkan ke dalam sebuah kuali yang berisi sup panas untuk disajikan kepada kami?
Kami hanya bisa tercengang dan berusaha menikmati sup gurita tersebut.
Wow, siapa yang sangka hanya dalam beberapa minggu saya mendapatkan “the Korean experience”?
Filed under: Uncategorized
Gw setuju pisan ama elu Kang!Korean food tastes better than japanese.korean tuh lebih kaya rasa ketimbang japanese yg kebanyakan rasanya hambar.
Di bandung ada resto korea yg cukup terkenal di jl.sukajadi.sayang mahalnya nauzubillah.tapi worth it koq.
kapan nih kita wisata kuliner di bandung?hehehe…
boleh, bisa diatur deh. makanan korea emang enak banget!