Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk makan di sebuah kedai sederhana di daerah Labuan, propinsi Banten. Kedai Ibu Entin, yang terletak di jalan raya Labuan ini, rupanya begitu terkenal sehingga banyak orang yang sekedar datang ke kota ini hanya untuk menyambangi sajian laut yang dihidangkan oleh Ibu pemilik kedai ini. Belum ke Labuan kalau belum mampir makan di kedai Ibu ini.
![]()
![]()
![]()
Ikan kakap merah yang segar dibakar utuh dan diberi bumbu yang khas namun berbeda dengan bumbu dari wilayah timur Indonesia. Begitu segar, hingga tidak terasa sama sekali amis ikannya. Dagingnya gurih dan manis. Begitu pula udang dan cuminya. Semuanya ditusuk dalam bilah-bilah bambu. Pokoknya luar biasa enaknya. Sambil menunggu matangnya ikan, kami disuguhi otak-otak yang dagingnya tebal. Rupanya ibu ini dikenal sebagai pembuat otak-otak ikan yang ulung.
Dengan kualitas makanan yang demikian, saya heran jika masih ada orang-orang yang kekurangan gizi di Indonesia. Tidak perlu bermewah-mewahan dengan suplemen produksi negara maju, cukup makan di kedai sederhana ini, kebutuhan protein kita terpenuhi. Dulu di jaman orde baru ada ‘gerakan makan ikan’ yang entah kemana sekarang.
Lalu mengapa kita sering ‘dodol’? Mengapa cara berpikir kita sering ‘aneh’? Saya kok nggak percaya kalau otak orang Indonesia itu berbeda dengan yang lain. Saya nggak percaya kita lebih bodoh dari orang-orang lain. Kualitas otak kita pun sama hebatnya dengan siapapun di dunia ini (bahkan orang Yahudi sekalipun!).
Kita hanya menderita inferiority complex. Mungkin akibat dijajah berulang-ulang kali oleh bangsa asing, dan juga oleh bangsa sendiri belakangan ini. Yang sering terjadi adalah pembodohan. Pikiran yang cerdas dipaksa untuk mati demi pikiran-pikiran yang konvensional, tapi bodoh.
Akhirnya, kita sering memilih untuk diam. Lalu ini jadi pembodohan diri sendiri.
Mungkin saatnya sekarang kita untuk bicara. Saatnya untuk mengungkapkan apa yang ada di benak kita semua. Perlu latihan untuk dapat bicara dengan baik. Perlu latihan untuk dapat memberikan kontribusi. Perlu latihan juga untuk dapat berpikir jernih.
Tapi itu harus dicoba. Harus dimulai. Harus ada niat untuk menggugat apa yang kita anggap mapan selama ini. Jangan takut dengan logika. Kita harus berhenti untuk menjadi ‘pasrah’ dan menyerah pada pembodohan – bagaimana pun pembodohan itu menggoda kita.
Filed under: Uncategorized
Ono…. Thanks for reminding! Gue kangen baca blog lo yang kayak begini.. Jangan masalah ‘sumur’ melulu dong…
Wish me luck ya No, I know I can get through that inferior complex thing.
Teringat gw ama kelas dimana seorang Indonesiana bernama Max Lane (mungkin belum seterkenal Clifford Geertz atau Benedict Anderson). Si Max ini cerita (kurang lebih) bahwa orang2 Indonesia itu sangat sulit menerima suatu yang baru dari “luar” salah satunya, kata dia, dikarenakan ada cultural traumatic syndrome. Efek kolonialisasi yang diderita Indonesia sangat berbeda dengan negara2 lain. Kolonialisasi menghasilkan politik2 kekuasaan, yang merasuk hingga dalam segala sistem sosial, terutama pendidikan. Di saat negara2 lain mulai melakukan perkawinan antar budaya melalui pendidikan, kita malah dijejali oleh retorika2 sejarah Orde Baru. Di saat orang belajar mengenal Shakespeare, kita malah gak pernah dikenalin ama karya2nya Pram.
Mungkin perasaan inferior itu sangat melekat kuat dalam budaya dan proses pembelajaran orang-orang kita.
————
Selamat deh buat blog barunya. Btw, “sumur”-nya dah kering ya?
dn-
nice blog bung…congrats!
pjv
Berputar haluan nih? Tentang makanan…
tapi masih kerasa ‘aroma’ NGO-nya kok
hehehe
Fotonya yang keren dong, katanya mengulas makanan kehidupan
Theme nya diganti dunk sama yang bisa dikustomisasi ‘header’ nya (supaya elo bisa pasang gambar makanan/kehidupan elo)
Trus gue bingung nih, apa sih aroma NGO itu?? Halaaah…
superfisial pisaaaan…
Nge-junk lagi (ah)….
gimana (kalo) kita2 bisa posting juga, jadi (supaya) para pembaca bisa melihat (dunia) dari sudut yang berbeda (dari orang yang berbeda)? Misalnya gue nulis tentang ‘sanger’(eh itu mah minuman) atau ‘ayam (kampus) tangkap’ (ini juga bukan makanan). Duh, kok komentar gue kebanyakan (tanda kurung).
Satpam pipis di semen, biar nyepam teteup peace men…
-LK- so-called-parentheses=lover-ever
Setuju dengan erdiand. Setidaknya ada beberapa sebab mengapa indonesia kekurangan gizi
1. ekonomi – ketidkamampuan masyarakat utk beli makanan.
2. pola makan, kebiasaan makan. Kalau gak makan nasi gak kenyang.
3. adanya phobia thd makanan ttt, misal makan ikan bikin cacingan dll
salam kenal
Luthfi
pesan-pesan terselubung makanan huehuae. cool:)
Menyedihkan memang, ada 2,3 juta anak balita penderita gizi buruk di Indonesia (Kompas,7 Oktober 2006). Bahkan di wilayah kaya ikan spt di Maluku sekalipun banyak penderita gizi buruk. Ini pasti disebabkan tidak ada akses utk mendapatkan sumber makanan, dan penyebab utamanya adalah: kemiskinan.
Ini blog tentang masalah sosial atau makanan sih ? Susah juga kalau orang NGO disuruh nulis tentang makanan.
Ari, jawabannya sederhana kenapa hingga saat ini masih saja ada penderita kekurangan gizi di Indonesia, “kemiskinan”. Walaupun di daerah maluku sedikit pun, hasil tangkapan mereka akan jauh lebih berguna jika dijual daripada dimakan sendiri.
Inferiority complex, balik-balik lagi ke bagaimana orang tersebut dibesarkan. Di kantor saya, ada salah satu anak buah saya yang umurnya jauh di bawah saya, yang ketika harus melakukan proses rekrutmen akan memilih kandidat yang memiliki kecenderungan inferiority complex. Alasannya sederhana, biar lebih mudah diatur. Jadi kalau balik lagi ke teori “penjajahan”, tampaknya tidak juga. Itu semua bermuara ke “value keluarga”, apakah mereka dibesarkan dalam lingkungan yang menghargai perbedaan pendapat ?
Sebuah usaha lanjutan untuk melanjutkan hidup yah?
Udah 2 bulan ga kasih kabar tempat makan yang enak yang lainnya lagi nih…? Ini Ono kan? Halo, Ono pa kabar? Masih ngajar di Unpad?
Ono, gue udah ‘laper’ nih. Mau baca posting baru loe! Demikian sibukkah dikau? Hehehehe…
mas Ari, kenapa ga nyoba buat blog mengenai pembodohan bangsa oleh Quiz. saya pikir kuis2x di Indonesia yang hadiahnya dah menggila mempengaruhi pola pikir bangsa dalam bekerja keras. mereka jadi lebih memilih bagaimana mendapatkan uang dengan mudah dan bukan “saya harus kerja keras bukan hanya untuk uang, namun demi penghargaan orang lain”. BTW great blog. i like the way u make this blog. congrats
hahaha..percaya gak orang Indonesia mampu bikin bom? http://lrth-movie.blogspot.com/
Wah, ternyata sudah buka cabang baru Pak Ono. Apa kabar? Nice blog. Keep writing.
Perlu dikembang-tumbuhkan sikap terbuka (open-minded) akan perubahan yang positif bagi pembentukan karakter bangsa, ya mulai dari tingkat individu masing-masing aja dulu deh…
dengan menulis blog seperti ini, dari level grass-root, memperluas awareness agar kita nggak terus2an menderita inferiority complex – gak semua bule itu pinter kok
dan berperilaku luhur, banyak sekali bule2 kampret macam di negeri si bau kelek ini..
bung… kok gk ada kehidupan lagi di blog ini? sibuk banget yah? hehe