Generasi indomie! Kata-kata ini sering diucapkan oleh orang-orang tua yang melihat mereka-mereka yang seumuran saya suka sekali makan indomie. Memang saya suka makan indomie: praktis, dan gurih. Dari macam variasi rasa yang ada, saya malah suka indomie yang klasik – rasa ayam bawang. Indomie dengan bungkus kuning itu buat lidah saya ternyata lebih terasa cocok.
![]()
Indomie memang biasa disajikan dengan cara macam-macam. Ada yang suka memberikan topping sawi, bawang goreng, dan bahkan telor dan kornet. Internet – indomie telor kornet, julukannya.
Tapi buat saya, paling nikmat itu makan indomie dengan nasi putih. Konyol memang, karbohidrat kok digelontor karbohidrat. Tapi itu yang saya makan buat sarapan pagi ini. Nikmat!
Saya jadi ingat waktu jaman kuliah di Inggris dulu. Kita bisa lho rindu dengan indomie! Saya khusus pergi ke sebuah toko di daerah Soho di London untuk membeli sekardus Indomie! Girang sekali rasanya ketika menemukan toko itu – setelah lebih dari 6 bulan harus makan-makanan lokal yang kadang terasa hambar.
Fenomena Indomie sebetulnya merupakan salah satu contoh rekayasa sosial rejim orde baru yang sukses. Bangsa kita sebetulnya bukan pemakan produk-produk gandum. Hanya segelintir kelompok penduduk di Indonesia yang makan mie. Mayoritas dari kita adalah pemakan produk-produk beras. Jadi seharusnya, kita seperti orang-orang Thailand, yang lebih suka makan mie beras (alias bihun), daripada mie gandum.
Namun berkat mobilisasi produk yang sangat besar melalui subsidi tepung besar-besaran yang diberikan pada masa orde baru, hingga harga pasaran indomie dulu bisa berkisar di seputar 200-300 rupiah, jadilah kini kita lebih suka mie tepung daripada mie beras.
Apa ini baik? Saya kok berpikir ini bermasalah. Uang rakyat kok dipakai untuk mensubsidi produk yang asing buat kita. Lalu – dan ini memang khas orde baru – kok bisa-bisanya menentukan bahwa gandum merupakan komoditas yang harus disubsidi. Ini kan hanya karena kong kali kong antara penguasa dan pengusaha pemilik Indofood.
Kita adalah korban. Bukan generasi indomie, tapi generasi korban rekayasa sosial orde baru!
Filed under: Uncategorized
Indomie is surely yummy stuff for first posting on your new blog. I bet this one will serve more fruitful flavors for the hungry palates and the hungry minds as well. Congratulations, Ono!
Kalo menurut gw, gak ada hubungannya antara kesukaan kita makan mie tepung dengan subsidi tepung besar-besaran. Itu sih, soal selera…….. Jangan mikir terlalu beratlah, No
Keep on writing ya,pak….
Nice blog. Congrats yak..
Bangsa Indonesia si-pemakan-beras ini sudah waktunya diperkenalkan dengan makanan alternatif non-beras (spt gandum). Wong rata-rata usia petani di jawa adalah 55 tahun, krn generasi penerusnya lebih suka jadi buruh pabrik.
Selamat datang krisis beras, selamat menikmati indomie (dan turunan2 gandum lainnya).
didn’t you find it at one of the chinese shops in leeds? *just wonder*
jadi, kenapa harus suka?
mie…cemilan tuh abz makan nasi truz mkn mie!
Indomi bersama nasi memagn adalah makanan yang menyenangkan. Kalau gue, gue lebih suka minya lembek banget. Udah ngembang nggak keru2an, dan dalam keadaan dingin. Pada saat begitu, di hari yang panas… astaga, enak banget… *bodoh ya*
Tapi benda itu memang bikin nagih kok.
semacam nikotin juga.
Pada suatu hari gue memutuskan berhenti makan mi.
Dan craving makan mi pun berhenti.
Walaupun mencium aromanya yang konon aduhai sedapnya itu… gue nggak lagi perduli. Bahkan nggak ngefek lagi.
Teh Botol kan bikin nagih juga, No.
So… hmh… begitulah
iyaa gue generasi indomie
hahha