“Amok in Cambodia”

Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi Siam Riep.  Sebuah kota wisata wilayah utara Kamboja.  Kota ini terkenal karena keberadaan Angkor Wat yang kesohor.  Kompleks candi ini memang luar biasa luasnya.  Kaki jadi pegal ketika kita harus berjalan dari satu situs ke tempat yang lainnya.

angkor1

Negeri Kamboja memang merupakan tempat yang memiliki hubungan historis dengan tanah Jawa.   Konon, Raja Jayavarman, yang mendirikan Angkor Wat, sebelumnya ‘nyantri’ dulu di Jawa Tengah atau, pada saat itu, Kerajaan Mataram.

Rupanya, ia membawa paham sinkretisme yang menjadi karakteristik filsafat di tanah Jawa.   Sinkretisme yang dibawanya lumayan radikal.  Di hampir seluruh kompleks Angkor Wat, kita bisa lihat bangunan candi yang mengikuti arsitektur Hindu yang menyerupai candi Prambanan, namun dipadukan secara tumpang tindih dengan agama Budha yang dianut oleh Jayawarman. Di setiap candi Angkor Wat, bisa kita temukan patung Budha dengan versi yang sedikit berbeda dengan patung lainnya yang ada di bumi nusantara kita.

Entah bagaimana ini bisa diterima oleh masyarakat Kamboja pada saat itu.

Tapi buat saya ini sekali lagi menegaskan bahwa jalinan antara interpretasi dan kekuasaan sangat lah kuat.  Interpretasi yang dibawa oleh penguasa akan terlegitimasi dan menjadi terinternalisasi di dalam kehidupan keseharian masyarakat yang berada di bawah kepemimpinannya – bahkan untuk hal yang ’sakral’ sekalipun.  Interpretasi tersebut bahkan menjadi sebuah normalcy yang dianut dimasyarakatnya.

Jika demikian, saya masih berpendapat bahwa segala sesuatu harus lah dipahami didalam sebuah konteks kultural sebuah komunitas masyarakat.  Ia tidak bisa dianggap abadi.  Pertanyaannya adalah ’seberapa berani’ dan ’seberapa nyali’ kita untuk mengakui hal ini dan menegaskan dan  mengakui dalam setiap langkah kehidupan kita?   Lebih lanjut lagi, seberapa jauh kita kemudian berani untuk menjadi ‘pragmatis’, tidak lagi mengkotak-kotakan individu dan masyarakat berdasarkan hal-hal yang demikian, tetapi lebih melihat segala sesuatu melalui nilai guna dan manfaatnya untuk kita semua, bukan hanya segolongan umat saja?

Dugaannya, seiring kembalinya Raja Jayavarman ke tanah Kampuchea, ia tidak hanya membawa filsafat dan ajaran sinkretisme dari Jawa, namun juga penduduknya dan makanannya.  Walaupun saya belum melihat data absah yang menunjukkan hal ini, namun besar dan kuat dugaannya bahwa dimasa tersebut terjadi pergerakan dan perkawinan antara penduduk Angkor dengan Jawa.

Tidak mengherankan jika mereka yang tinggal di Thailand dan Kamboja secara fisik memiliki kemiripan dengan kita yang tinggal di Pulau Jawa.  Mungkin memang ada hubungan sejarahnya.

Makanan di Kamboja memang banyak dipengaruhi oleh masakan Thailand dan Perancis, namun signature dish dari tanah Kampuchea, atau pernah dikenal sebagai Champa, ini sepertinya memiliki kemiripan dengan masakan khas dari Jawa.

Namanya Amok.

Amok adalah olahan ikan yang disajikan dalam kuah santan.  Namun olahan santannya berbeda dengan masakan dari wilayah Sumatera Barat.  Olahan santannya lebih menyerupai opor.
Bayangkan kuah opor dengan ikan berdaging putih.

Ya, opor ikan.

amok

Amok biasanya disajikan diatas mangkuk yang dibuat dari daun pisang.  Saya sengaja memberanikan diri bertanya kepada pemilik restoran mengenai hal ini.  Penyajian amok yang baik memang selalu diatas daun pisang.  Menambah rasa dan selera makan, ujarnya dengan bahasa inggris yang terpatah-patah.

Lezat!

Kambing Ritual dan Sate Bang Wahab

Pernah kah anda bertanya sejak kapan kambing dijadikan hewan yang dipergunakan sebagai berbagai macam ritual agama, khususnya Islam, di Indonesia?

Jawabnya mungkin sejak Islam mengajarkan ritual Idul Adha.  Karena sulit untuk mencari unta atau hewan padang pasir lainnya, para pembawa agama Islam mungkin mempergunakan hewan yang mudah ditemukan dan diternak di Indonesia untuk dipergunakan sebagai hewan kurban: kambing.

Keunggulan kambing adalah ukurannya yang tidak terlalu besar, sehingga masing-masing individu dapat berkurban satu ekor kambing tanpa harus terasa berat, mudah diternakkan, dan dagingnya juga banyak dikonsumsi.

Atau, mungkin kah jawabannya justru sebaliknya?  Islam justru menggunakan apa yang biasa dipergunakan oleh penduduk setempat untuk berkurban dan mengasimilasinya di dalam ritual Idul Adha dan ritual keagamaan lainnya.

Artinya, praktek menggunakan kambing sebagai hewan kurban mungkin sudah terjadi sejak sebelum Islam datang ke tanah air.  Setidaknya ini lah kesan yang saya peroleh ketika saya tengah membaca buku terjemahan karya Bernard H.M. Vlekke yang bertajuk Nusantara.

Buat saya, ini buku yang sangat menarik.  Menarik karena ia menyajikan sejarah Indonesia untuk audiens masyarakat Amerika Serikat.  Disini kita bisa melihat penjelasan-penjelasan yang banyak kita anggap given.  Lagi-lagi, untuk saya, buku ini memberikan pandangan sejarah Indonesia dari sudut yang menarik.  Untuk Taufik Abdullah, yang memberikan Tinjauan untuk versi Bahasa Indonesia, buku ini bukan untuk yang direkomendasikan bagi pemula.  Apalagi ketika buku ini sebetulnya telah out of date.  Vlekke menerbitkan buku ini di tahun 1961.  Tetapi sebagai komparasi dan perbandingan bagi mereka yang sudah memahami sejarah Indonesia.

Entah saya masuk kategori yang mana, tetapi saya sangat terhibur dengan penyajian Vlekke tentang sejarah Indonesia dalam buku ini.

Nah, disamping banyak informasi lainnya, dari sini lah saya tahu bahwa Kerajaan Hindu di Jawa sudah mempergunakan kambing sebagai hewan kurban.  “Profesor Krom – seorang ahli besar Hindu – Jawa,” catat Vlekke, “pernah mencatat bahwa ada dua kambing di bawa ke candi … oleh seorang petani”.

Penting?  Mungkin tidak.

Lebih penting berbagi nikmatnya sate kambing Bang Wahab di Tangerang.  Waktu itu saya tengah berjalan-jalan di kota yang dikenal sebagai Benteng ini.

Di jalan Imam Bonjol ada sebuah kedai sate yang terkenal yang bernama sate Bang Wahab.

image052image053

Yang unik dari sate ini adalah penyajiannya.  Walaupun ketika dibakar tusuk sate dipergunakan, daging kambingnya tidak disajikan di dalam tusukan-tusukan sebagaimana biasanya sajian sate kambing, tapi justru disuguhkan dalam potongan-potongan setelah dibakar didalam sebuah piring.  Kita juga bisa memesan sate jeroan dan ati.  Serupa dengan sate daging, jeroan dan ati setelah dibakar disajikan tanpa tusuknya.

image047

Sepertinya kambing yang dipergunakan juga pilihan, yang muda.  Dan dengan pengolahan yang prima, daging yang disajikan samasekali tidak ada bau prengusnya.   Jeroannya juga tidak amis.   Menikmatinya pun jadi maksimal.  Yang harus berhati-hati ya mereka yang punya gejala darah tinggi dan kolesterol.  Makan disini bisa lupa sedang makan daging dan jeroan kambing.

image044image045

Saya juga memesan sop kambing disana.  Rasanya luar biasa.  Paduan merica dan kuah jeroan kentalnya sangat terasa pas.  Lagi-lagi tidak ada rasa amis.

image046

Jika ke Tangerang, jangan lupa mampir ke Sate Bang Wahab!

Tiktok van Depok dan Marketing Communications

Sebetulnya saya sudah lama melewati tempat berjualan Tiktok van Depok ini.  Tapi saya baru tergerak untuk berhenti dan mencicipi hidangan ini setelah ada liputan di Kompas minggu beberapa waktu yang lalu.

Sejak awal, saya sudah berkali-kali melirik ke warung ini.  Yang unik dari warung ini adalah promosi bahwa makanan yang disajikan berbahan dasar hewan yang tidak pernah kita temukan sebelumnya.  Ini karena sang empunya restoran lah yang melakukan penyilangan Itik dan Entok.   Ia menyebut hewan baru ini Tiktok

image039

Ketika saya mendatangi kedai ini, pengunjungnya cukup banyak.  Ada seorang ibu yang makan sendiri, dan kemudian memesan beberapa bungkus tiktok goreng dan panggang.  Di sudut yang lain, ada beberapa keluarga bersama anaknya tengah menikmati sup tiktok.  Pelayan kedai ini berlalu lalang sibuk melayani pembeli yang tak kunjung berhenti.

Saya sebetulnya ingin mencoba sup dan tongsengnya.  Konon enak.  Tapi sayang seribu sayang, ternyata sudah habis.    Akhirnya saya memesan tiktok goreng dengan nasi putih.

Rasanya memang seperti yang dijanjikan.  Ia bertekstur seperti ayam, dan juga memiliki rasa yang serupa dengan ayam.  Namun potongannya lebih besar dari ayam.  Kulitnya pun lebih tebal, lebih berminyak daripada ayam.

image0381

Tapi rasanya beda dengan bebek.  Liat daging khas bebek tidak kita temukan disini.  ‘Aroma’ khas dari daging bebek juga tidak kita temukan disini.

Sambil menikmati daging tiktok tersebut saya melihat keliling saya.  Usaha seperti ini lah yang kita butuhkan saat ekonomi global terpuruk.  Ekonomi yang asli Indonesia.  Mulai dari bahan baku, hingga pemasaran pun di lakukan di Indonesia.  Saya pernah mengajak orang untuk makan di warung untuk memajukan ekonomi Indonesia.  Kini, saatnya kita untuk mengembangkan usaha kecil dan menengah seperti ini.

image0412

Yang sering terabaikan dalam usaha kecil dan menengah adalah aspek marcomm-nya.  Usaha kecil dan menengah seringkali hanya mengandalkan words of mouth.  Walaupun dalam pemasaran dan public relations kanal ini merupakan kanal yang terbaik, namun kadang-kadang sulit untuk memulainya.

Nah, Tiktok van Depok mulai ramai dikunjungi calon pelanggan setelah publisitas yang dilakukan di Kompas.  Strategi yang demikian dapat dipergunakan oleh banyak usaha kecil dan menengah di Indonesia untuk memasarkan produknya.

Nampaknya masyarakat banyak yang sudah mulai mengapresiasi editorial produk, atau cerita tentang sebuah produk yang disajikan di harian atau majalah.  Masyarakat Indonesia, yang kini tingkat intelegensianya semakin tinggi, nampaknya lebih suka membaca cerita tentang bagaimana Tiktok van Depok disilangkan dari Entok dan Itik, bagaimana makanan ini diolah, human stories yang ada di belakang ini semua.

tiktok-depok-kompas

Keleluasaan pilihan waktu untuk menerima informasi juga penting.  Mereka bisa memilih sendiri: di pagi hari, siang, atau malam menjelang tidur. Mungkin masyarakat sudah jenuh dengan hard-selling a la iklan yang modanya adalah menginterupsi aktivitas kita.  Ada kesan mengganggu disini.

Rasanya baru belakangan ini saya membaca buku tentang matinya advertising.   Ternyata, dampaknya sudah bisa dirasakan di Depok!

Misteri Legenda Sup Buntut dan Dahapati

Dorongan terbesar saya untuk menulis blog ini sesungguhnya adalah menulis tentang sejarah makanan.  Saya merasa ada cerita yang mendalam dibalik gurih dan nikmatnya makanan yang kita santap setiap hari.  Misalnya, ada banyak makanan yang kita nikmati di Indonesia sesungguhnya dipengaruhi oleh olahan dari Tiongkok.  Mungkin ini tidak terlalu mengherankan karena di dalam banyak buku sejarah disebutkan bahwa asal muasal dari bangsa-bangsa yang ada di Indonesia, khususnya di bagian barat negeri ini adalah dataran Cina Selatan.

Tahukah anda bahwa tempe dan tahu Bacam yang banyak kita temukan di Jawa, misalnya, jelas dipengaruhi oleh cara pengolahan tahu kecap yang mirip dan dapat kita temukan di banyak restoran Cina.

Sayangnya, sejarah sebuah makanan menjadi hal yang sangat sulit untuk di temui, sehingga saya banyak hanya menduga-duga dan menebak-nebak asal muasal dari sebuah olahan.

Begitu pula dengan sup buntut.  Saya tidak tahu pasti dari mana asal sup ini, tapi yang jelas makanan ini sering diasosiasikan dengan kalangan menengah keatas.  Mungkin karena harga buntut yang mahal dan di Jakarta, sup buntut yang paling lezat, konon, yang disajikan di Hotel Borobudur.

Namun belakangan ini, sup buntut banyak bisa ditemukan di berbagai kedai.  Mulai dari kedai di pinggir jalan, seperti misalnya Sup Buntut yang terkenal di dekat mesjid Cut Mutia, Jakarta, hingga sup buntut yang saya icipi di bilangan Cipaganti, Bandung.

Warung Sup Buntut ini bernama Dahapati.  Saya tahu tempat ini dari sesama penikmat makanan yang tinggal di kota kembang ini.

dahapati

Warung ini memiliki dua buah tempat makan yang unik pengaturannya.  Tempat makan utama justru yang berada di paviliun.  Sementara, annex-nya justru rumah utama yang dibangun di jaman Belanda.  Entah mengapa seperti ini pengaturannya.

Tempatnya memang tidak begitu terlihat dari pinggir jalan.  Malah cenderung agak remang-remang dan kurang menarik untuk dikunjungi.  Tapi belakangan ini, restoran ini malah penuh dikunjungi oleh banyak orang yang ingin mencicipi nikmatnya sup buntut goreng di udara Bandung yang sejuk.

Sup buntut gorengnya nikmat.  Walaupun sebetulnya saya lebih suka buntut yang digoreng kering, namun penyajian buntut goreng dengan karamel yang manis juga lumayan lezat.  Harganya memang diatas rata-rata menu wisata kuliner di Bandung, tapi cukup terjangkau untuk menikmati makanan ‘kalangan atas’ di sini.

buntut-dahapati

Pernah saya bercerita tentang nikmatnya daging buntut ke kawan saya yang berasal dari Eropa.  Ia sempat terheran-heran mengetahui bahwa masyarakat Indonesia gemar menyantap bagian tubuh sapi yang satu itu.

“Buntut?”, ujarnya.  “Maksud kamu buntut yang di belakang itu?”, dengan kerutan dahi yang kentara.

Saya tersenyum.  Kenapa heran, siapa tahu sup buntut itu kreasi para pendatang dari Belanda jaman dahulu, nenek moyangnya?

Melirik Kuliner Jayapura dan Barcelona

Wisata kuliner di Jayapura memang sepertinya didominasi makanan laut.  Jika tidak suka makanan laut, Papua bisa jadi tempat tempat yang penuh siksaan.  Sepanjang mata memandang, terhampar kedai dan kios yang menjual ikan bakar, dan berbagai macam olahannya.

Jika malam hari tiba, kita bisa melihat penduduk setempat mulai menggelar dagangannya di tenda-tenda di pinggir jalan.  Di dekat tempat saya menginap, ada rangkaian kedai yang berjejer menjual berbagai macam masakan ikan segar.  Ikan yang biasanya disajikan dari jenis kakap, baronang tulis atau totol, bobara dan goropa.  Bobara, di wilayah barat Indonesia biasa dikenal sebagai ikan Kuwe.  Sementara, goropa, biasanya dikenal disini sebagai ikan kerapu.  Namun biasanya kerapu yang disajikan disana adalah kerapu merah, yang di Jakarta biasa disebut kerapu lodi.

image0323

Namun jangan bayangkan rasanya sama dengan ikan-ikan di wilayah barat Indonesia.  Ikan di perairan wilayah timur Indonesia ini memiliki rasa yang segar dan manis.  Mungkin karena airnya memang belum terkontaminasi sehingga kualitas ikannya pun benar-benar prima.  Udang dan cumi-cumi yang disajikan juga sangat segar.

jayapura

Malam itu saya makan di kedai pinggir jalan di dekat hotel tempat saya menginap.  Saya bisa memilih ikannya sendiri, langsung diolah di tempat.  Ah, rupanya mereka juga menyajikan telur ikan.  Telur ikan pasti mengandung kolesterol yang tinggi, tapi saya betul-betul penasaran.  Setelah disantap, ternyata rasanya luar biasa enaknya.

udangimg_4218img_4154

Selain itu, pemandangan di Papua juga luar biasa indahnya.  Di antara Abepura dan Jayapura, ada sebuah tempat yang bernama Skyline.  Disini kita bisa melihat batas angkasa.  Betul-betul mencengangkan.  Layak lah kiranya jika anda berhenti sesaat di Skyline, sambil minum kelapa yang segar yang langsung disajikan disana.

img_4376

Lalu ada juga Bandeng bakar yang segar di Pasar Entrop.  Tempatnya memang agak kurang memadai, tapi ikan bakarnya luar biasa segarnya.  Ikan yang dibakar adalah dari jenis Bandeng tambak.  Namun, berbeda dengan banyak bandeng bakar lainnya, ini samasekali tidak bau tanah.  Rasanya pun jauh lebih gurih.

bandengbandeng-bakar

Menikmati makanan laut nikmat dengan kualitas seperti ini memang bisa ditemui di banyak tempat di dunia ini.  Dengan gaya dan harga yang berbeda-beda, tentunya.

Di Barcelona, Spanyol, misalnya, beberapa waktu yang lalu ketika saya mengunjungi negeri tari Flamenco ini, bisa kita temui banyak restoran yang menyajikan makanan laut. Mulai dari hidangan pinggir jalan, hingga fine dining sambil menyaksikan tarian Flamenco yang terkenal di seluruh penjuru dunia itu.

Di pasar tradisional di kota ini, bahkan kita bisa temukan berbagai macam ikan, lobster, udang, haisom, hingga telur ikan dijual dan terlihat sangat segar.  Saya betul-betul tergoda ingin membeli saat berada disana.

p4150120

Saat saya berkunjung ke Barcelona beberapa waktu lalu, saya diajak makan di restoran yang berada di salah satu marina, atau pelabuhan di kota ini.  Restoran ini cukup mewah, dan menyajikan rebusan dan olahan kepiting, udang, dan termasuk lobster.  Disini kita diajak untuk menikmati gurih dan manisnya berbagai macam hewan laut dari keluarga udang dan kepiting.  Bagi yang alergi terhadap jenis makanan laut ini, sudah barang tentu tidak bisa menikmati hidangan ini!

p4150123p4150130

Nama restorannya adalah El Cangrejo Loco atau Si Kepiting Gila.  Porsi yang disajikan memang benar-benar gila. Ketika kita duduk disana, dengan sigap sang pelayan memberikan alat-alat makan – yang lebih mirip sebagai alat operasi – di meja kita.  Ini sungguh menegangkan.

p4150306

Tak lama kemudian datanglah sewadah besar berbagai macam jenis kepiting, udang dan lobster yang digoreng dengan minyak zaitun.  Aroma dan rasanya berbeda dengan kepiting atau udang goreng yang kita sering rasakan di Indonesia.

p4150309

Aaah, puas sekali malam itu.  Di iringi dengan minuman khas Spanyol, sangria, makan di pinggir kota Barcelona jadi memori yang benar-benar membekas di lidah saya.