Akhirnya, setelah keliling kota Surabaya , ketemu juga rumah Bu Rudy. Rumah di jalan Dharmahusada ini menjual nasi sambal udang yang kesohor itu.
Nasi Udang Bu Rudy sebetulnya adalah macam ramesan yang punya signature berupa udang goreng kering dan kremes, serta sambal korek yang luar biasa pedasnya.
Bagi yang tidak kuat pedas, sambal ini tak lebih dari penyengat lidah yang mungkin samasekali tidak ada nikmatnya. Bahkan cenderung menganggu.
Tapi buat para pecinta makanan pedas, sambal Bu Rudy ini lezat dan sangat gurih. Bahkan, ia sudah cukup gurih untuk jadi pendamping nasi panas, tanpa lauk. Lezaaat!
Sambal Bu Rudy sekarang ada tiga macam. Yang standar, sambal bajak, dan sambal hijau. Nah, yang terakhir ini yang juga tak kalah enak. Sambal hijau ini adalah sambal dengan campuran ikan peda dan ikan asin. Terbayang lezatnya kan?
Bu Rudy rupanya tidak pernah menyangka ia bisa sukses seperti ini. Hidupnya diawali dengan hijrah dari Malang ke Surabaya untuk menanggung beban hidup keluarganya selaku anak tertua. Hidup di kamar kecil di Surabaya dan mencari nafkah dengan bekerja di toko sepatu penuh dengan ketidaknyamanan, ia bahkan sempat digigit tikus!
Karena banyak yang mengatakan ia jago masak, Bu Rudy lalu membuka warung nasi di Jalan Manyar. Berangkat dari situ lah usaha Sambal Bu Rudy kini berkembang hingga memiliki beberapa cabang.
Baiklah, saya mborong dulu ya? Ada titipan dari teman dan keluarga di Jakarta ….
Filed under: Domestic Trips | Leave a Comment »











