Mungkin ini yang dinamakan kenikmatan yang tiada berbatas. Seumur hidup, rasanya baru sekali makan daging kambing panggang yang luar biasa enaknya. Rasanya pas jika ini ditahbiskan sebagai kambing panggang paling enak di dunia.

Saya harus berterima kasih kepada kawan saya yang tengah bertugas di KBRI Madrid. Ia bersama keluarganya lah yang memperkenalkan saya dengan makanan luar biasa lezatnya ini.

Ribs panggang yang saya pesan bernama Cordero Asado En Horno De Lena. Rasanya sungguh nikmat. Empuk, beraroma khas yang menggugah selera, apalagi disajikan ditengah udara dingin musim semi Eropa. Ribs kambing panggang ini disajikan dengan pendamping acar buah olive, bawang merah, dan timun mini yang memiliki rasa yang unik.

Sebagai entrada atau appetizer, disajikan sup udang yang lezat. Udangnya dihancurkan dan dicampurkan kedalam sup krim yang berwarna merah menggoda.

Konon, kambing panggang yang disajikan disini berasal dari kambing muda yang tengah menyusui induknya. Ah, saya pun baru diberitahu setelah selesai makan. Tidak tega rasanya jika saya tahu sebelumnya. Tapi tak perlu khawatir, hampir di semua budaya ada makanan eksotis yang berbahan ini. Di Filipina ada balut. Telur bebek yang hampir menetas direbus dan disajikan di sudut jalan-jalan di Manila. Di Cirebon, semua sate kambingnya dijual dengan embel-embel ‘muda’. Tidak tahu ini betul-betul muda atau tidak - sama mudanya dengan kambing muda yang sedang saya santap ini, atau sedikit lebih dewasa. Entahlah.

Istimewanya kambing muda, selain daging yang empuk dan lezat, bau menyengat kambing yang sering mengganggu penikmat daging samasekali tidak terasa. Konon pula, efek kolesterolnya pun belum ada. Jadi aman buat penderita darah tinggi dan kolesterol.

Nama restorannya adalah El Bernardino. Tempatnya berada di jalur menuju Istana Alcazar di Segovia, di sebelah utara Madrid, ibukota Spanyol. Segovia terkenal dengan bangunan aguaducto-nya. Bangunan masif yang dibangun di jaman Romawi dan berfungsi untuk mengalirkan air dari dataran yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah dan berpopulasi di Segovia tua.

Tak jauh dari Segovia, ada sebuah kota tua bernama Avila. Kota ini terkenal dengan benteng yang mengagumkan. Sungguh indah. Rasanya seperti kembali ke jaman dahulu kala. Sungguh kagum rasanya ketika melihat benteng ini terpelihara secara dengan sangat baik sejak pertama di bangun. Oleh UNESCO, tempat ini di jadikan situs warisan sejarah dunia. Ah, mengapa kita tidak bisa seperti ini?

Avila sendiri adalah sebuah kota kecil di utara Madrid dan berada di wilayah Castilla y Leon. Benteng yang menakjubkan ini dibangun di abad 11, dan selesai pada abad 12. Panjangnya lebih kurang 2,500 meter dengan tinggi sekitar 12 meter.

Posted by: arimgn | April 22, 2008

Spain Trip#2: Cordoba, Paella, dan Niat Baik

Cordoba merupakan tempat yang penting untuk dikunjungi di Spanyol. Kota ini merupakan pusat pemerintahan peradaban Islam di Eropa. Tahun 756 Abdul Rahman I memegang tahta kekuasaan wilayah Al-Andalus. Ia mengawali masa gemilang peradaban Islam di Eropa. Ia memproklamirkan dirinya sebagai Amirul Cordoba.

Populasi Cordoba saat itu melesat hingga lebih dari 300.000 jiwa. Lebih dari 800 masjid dibangun. Masa gemilang dari sejarah Islam yang masih berbekas hingga saat ini adalah ketika Al-Hakim II menguasai Cordoba pada tahun 961-976. Pada saat itu, lebih dari 250.000 teks diperkenalkan kepada Eropa - termasuk filsafat Yunani yang menjadi fondasi peradaban Barat modern. Komentar Ibnu Rusyd dan Ibnu Sina atas filsafat Plato, Aristoteles, dan filsuf Yunani lainnya juga di terjemahkan pada masa ini.

Angka ‘Arab’ juga diperkenalkan di jaman ini. Ini adalah masa dimana bangsa Eropa mengenali angka nol (0). Angka nol memberikan akses kepada bangsa Eropa untuk memahami matematika dan astronomi secara lebih komprehensif.

Empat jam perjalanan dari Madrid dengan kendaraan harus ditempuh jika kita ingin mengunjungi Cordoba. Bisa juga dengan kereta supercepat Ave. Hanya saja harganya cukup menguras kantong.

Begitu tiba di Cordoba, saya langsung menuju situs historis Mezquita. Ada suasana yang berbeda ketika saya menginjakkan kaki di kota ini. Hampir tidak percaya rasanya bahwa saya berada disebuah tempat yang amat sangat bersejarah, dan sangat berpengaruh pada hidup kita semua saat ini.

Entahlah, mungkin terlalu berlebihan, tapi tanpa Al Hakim II, tidak akan pernah bangsa Eropa mengenal filsafat Yunani dan matematika. Dan tanpa filsafat Yunani, tak akan pernah ada sejarah modern Eropa.  Ini yang membuat bulu kuduk berdiri.

Mezquita adalah masjid di masa peradaban Islam yang terkenal dengan arsitektur yang unik. Langit-langit yang dihiasi oleh lengkungan (arc) unik yang berwarna merah-putih berselang-seling dan ditopang oleh pilar marmer menghiasi interior Mezquita. Jumlah yang luarbiasa banyaknya membuat siapapun yang datang ke masjid ini menjadi tercengang.

Ketika Cordoba jatuh ke pangkuan penguasa Kristen di Spanyol pada tahun 1010, masjid Mezquita diubah menjadi katedral, hingga saat ini. Pintu masuk mesjid ditutup dengan bata. Tapi yang menarik, di dalam katedral Mezquita, kita masih bisa melihat mihrab yang masih utuh dan dirawat dengan baik.

Konon di masa para khalifah Cordoba, bangsa lain diperlakukan dengan sangat baik. Ada bukti-bukti dimana khalifah Cordoba memperlakukan bangsa Yahudi dengan niat yang baik. Bahkan di masa Abdul Rahman III, ada seorang Yahudi dijadikan menteri keuangan dalam pemerintahannya.  Namun niat baik mungkin tidak dimiliki para Almorahid dan Almohad yang berasal dari Afrika Utara. Mereka yang baru saja memeluk agama Islam bertindak kasar dan keras, serta mengusir Yahudi keluar dari wilayah Al-Andalus.

Ah, sayang sekali. Memang butuh niat baik di belakang agama. Tanpa niat baik, agama hanya menjadi senjata yang mematikan.

Kabarnya makanan khas Spanyol, paella, pun merupakan satu dari sekian banyak ragam hidangan Al-Andalus. Paella adalah hidangan nasi yang berwarna kuning dan biasanya disajikan dengan berbagai macam seafood, terutama udang, cumi-cumi, dan lobster.

Banyak perdebatan tentang asal muasal makanan ini, tetapi, ada beberapa spekulasi yang mengatakan bahwa paella sesungguhnya merupakan makanan ’sisa’ pesta para raja Moor. Para pembantu raja dahulu mengabungkan dengan makanan sisa pesta dengan nasi sebagai lauk untuk dibawa pulang.

Penggunaan bumbu safron berwarna kuning dalam paella juga nampaknya dibawa oleh bangsa Moor ketika menguasai dataran Iberia.

Yang membuat saya senang, sepertinya ada niat baik dan kejujuran dari para penjual paella di Spanyol. Ada konsistensi antara gambar dan hidangan yang disajikan kepada para pelanggan.

Lain ceritanya di Singapura ketika saya makan siang di Takashimaya food court. Saya tergoda oleh gambar hidangan ikan mackarel yang diiklankan. Namun, setelah disajikan, ternyata hanya kekecewaan yang membekas!

Segera setelah rapat di Inggris selesai, saya menyempatkan diri untuk mengambil sisa cuti saya tahun ini untuk berlibur di Eropa. Tujuan utama saya adalah Spanyol. Liburan kali ini pun sudah saya rancang secara tematik, bukan sekedar liburan biasa, tetapi sebuah liburan arkeologis, dan tentunya - kuliner.

Mengunjungi situs-situs bersejarah, terutama peninggalan peradaban Islam, di Spanyol menjadi prioritas utama liburan saya di negara yang cantik ini. Saya juga berencana untuk mencoba makanan khas Spanyol seperti Paella, Tapas, dan Tortilla.

Islam, seperti yang kita tahu, pernah berada di Spanyol sejak tahun 711 hingga 1492. Tak mengherankan jika peninggalan peradaban Islam tersebar di hampir sebagian besar penjuru Spanyol, utamanya di daerah yang dahulu disebut Al-Andalus.

Tiga bacaan pemandu pun sudah saya siapkan untuk kunjungan ke Spanyol kali ini: A History of Civilisation oleh Fernand Braudel, The Tales of Alhambra yang ditulis oleh penulis dan diplomat Amerika yang hidup di tahun 1829 di Granada, Washington Irving, dan tentunya buku panduan wisata Spanyol. Saya memilih panduan yang disusun oleh Discovery Channel, karena memiliki penjelasan historis yang cukup memadai untuk seorang pelancong awam seperti saya.

Nah, agar perjalanan jauh lebih berkesan, saya mengambil rute yang unik. Alih-alih terbang, saya menggunakan kombinasi rute laut-udara. Lebih murah dan nyaman.

Berangkat dari stasiun Liverpool Street di London, saya menggunakan kereta menuju pelabuhan Harwich International yang berada di sebelah timur Inggris. Di sana, Ferry Stenaline yang sudah saya pesan dari Jakarta melalui internet, menunggu untuk berlayar ke Hoek van Holland di Belanda.

Stasiun Liverpool Street sedang ramai hari itu. Penuh orang berlalu lalang menuju platform tempat kereta tujuan masing-masing diberangkatkan. Banyak juga orang yang bergegas keluar dari kereta dan menuju stasiun underground yang menghubungkan stasiun Liverpool Street dengan jaringan transportasi bawah tanah kota London.

Setibanya di Harwich International, saya langsung menuju ke kapal. Kapal Stenaline ini bersih dan terang. Stafnya pun cukup ramah. Mereka menyapa penumpangnya satu per satu. Ternyata kamarnya sangat menyenangkan. Ruangannya cukup lapang. Ada double-bed dengan televisi. Kamar mandinya pun bersih dan tersedia shower air panas. Langsung saya bersih-bersih, mandi dan istirahat, merebahkan diri di tempat tidur setelah satu hari penuh lelah menempuh perjalanan darat dari Oxford menuju stasiun Harwich.

Ditengah malam, saya terbangun dan baru tersadar bahwa kapal ini sudah berjalan. Beruntung, ombak malam itu tidak terlalu besar. Sehingga saya kembali lelap terbuai bak dalam ayunan.

Perut saya keroncongan saat kapal bersandar di pelabuhan Hoek van Holland pukul 8 pagi. Sayang sekali, karena kelelahan, saya melewatkan sarapan yang tersedia di kapal satu jam sebelum merapat. Ah, biarlah, lagipula saya masih harus membayar sarapan karena biaya kamar dan penyeberangan belum termasuk makanan.

Ada suasana yang familiar ketika saya menginjakkan kaki di Belanda. Banyak terdengar disana sini Bahasa Indonesia dengan aksen Maluku dituturkan. Penyerapan kata-kata Bahasa Belanda dalam Bahasa Indonesia pun banyak mempermudah saya untuk menebak-nebak arti dari sebuah pengumuman publik.

Menggunakan kereta, saya berangkat menuju Den Haag. Sepanjang perjalanan saya melongok ke setiap stasiun yang dilewati, mencari vending machine kroket dan frikandel yang menjadi khas Belanda.

Berbeda dengan Inggris atau negara-negara Eropa Barat lainnya, di Belanda mudah ditemukan vending machine yang menjual berbagai macam kudapan hangat yang juga lazim disajikan di Indonesia. Kroket salah satunya.

Vending machine
ini biasa ditemukan di stasiun kereta atau di tempat ramai lainnya. Biasanya dengan menggunakan koin 1 Euro, kita sudah bisa mendapatkan makanan kecil hangat. Benar-benar membantu untuk mengganjal perut, dan sekaligus memanjakan lidah.

Setibanya di stasiun Den Haag Centraal, saya langsung menuju sebuah sudut tempat saya pernah membeli kroket melalui vending machine ini pada kunjungan saya ke Den Haag tahun lalu. Ah, sayang, ternyata masih tutup. Rupanya ia hanya buka setelah jam 10an. Mungkin butuh waktu untuk memasak kroket dan frikandel-nya.

Frikandel juga kudapan yang layak dicoba. Bentuknya seperti sosis, tapi rasanya mengingatkan kita dengan perkedel. Mungkin yang dimaksud dengan perkedel di Indonesia sebenarnya mengacu pada frikandel.

Vending machine sepertinya memang tidak populer di Indonesia. Jarang sekali saya menemukan vending machine di Indonesia. Atau bahkan tidak ada. Selain karena alasan keamanan, mungkin orang lebih suka berinteraksi dengan penjaga warung yang bisa diajak bicara. Atau, mungkin biaya operasional vending machine jauh lebih mahal dari sebuah kios rokok kaki lima?

Ah, janggal rasanya membayangkan ada vending machine di Stasion Hall di Bandung yang menyajikan cireng!

Posted by: arimgn | April 18, 2008

A380, Pot Noodle, dan Hambarnya Daging a la Inggris

Tahun ini saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Oxford lagi.  Yang membuat kunjungan ini menjadi sungguh begitu istimewa adalah perjalanan dari Singapore ke London menggunakan pesawat Airbus terbaru, A380.   Sungguh tepat waktu, karena maskapai yang saya tumpangi baru meluncurkan penerbangan dengan pesawat terbaru ini di akhir Maret 2008 yang lalu.  Sungguh beruntung, karena dengan harga yang sama, saya bisa menumpangi pesawat gres ini.

A380 at Changi Terminal 3

Secara umum pesawat A380 ini memang impresif.  Pada saat take off, sama sekali tidak terasa getaran.  Seperti yang diungkap oleh banyak reviewer, rasanya sama seperti ’sebuah kereta yang tengah meluncur keluar stasiun’.  Tidak ada getaran di kabin samasekali.  Ruang duduknya untuk kelas ekonomi lebih lapang.   Untuk kelas bisnis, luar biasa lapang.  Apalagi kelas suite!

Layar televisi untuk kelas ekonominya pun lebih luas dari kelas serupa di pesawat jenis yang lain.  Ada USB port, dan program interaktifnya juga termasuk Star Office - salah satu program Open Office. 

Lelap saya tertidur tanpa sadar bahwa London Heathrow hanya tinggal 1 jam didepan.

Ternyata Oxford tengah hujan salju ketika saya tiba pagi-pagi buta.  Dalam perjalanan dari London ke Oxford, sejauh mata memandang hanya terlihat lapangan putih dengan pohon-pohon yang meranggas.  Padahal ini sudah musim semi!

Sambil termenung memandangi tebalnya salju dari luar jendela kamar, saya baru menyadari bahwa jadwal kunjungan saya di Oxford kali ini benar-benar padat.  Setiap hari, sejak pukul 8.30 hingga 5.30 sore, saya disibukkan oleh sejumlah rapat.  Di malam hari, biasanya ada acara sosialisasi, seperti minum, maupun makan dengan beberapa rekan kerja.

Rapat internasional seperti ini selalu juga dihadiri oleh rekan-rekan saya yang berasal dari kawasan Asia Selatan.  Rekan-rekan yang berasal dari Asia Selatan biasanya memiliki tabiat yang sama: teguh, kukuh, dan persistent.  Mereka pun cenderung berapi-api.  Kefasihan mereka dalam menggunakan bahasa Inggris sering membuat rekan dari Eropa Barat dan Amerika sering jadi harus mendengarkan dan mengakomodasi keinginan mereka.

Rekan dari Afrika pun biasanya juga begitu.  Lugas, tegas, dan sangat berapi-api.

Rekan dari kawasan Asia Timur biasanya memiliki tabiat yang lain.  Peserta dari kawasan ini biasanya cenderung diam.  Bicara seperlunya.  Mungkin karena tidak sefasih rekan yang datang dari Asia Selatan dalam menggunakan bahasa Inggris.  Tabiat ini kadang-kadang merugikan.  Sepanjang pengalaman saya, di dunia internasional, bicara dan secara tegas menunjukkan posisi dan persistent, adalah hal yang penting. 

Mungkin ini salah satu sebabnya banyak rekan dari Asia Selatan yang berada di posisi kunci di sejumlah organisasi internasional.

Dalam kesibukan yang demikian, biasanya makanan pun jadi nomor dua.  Hampir setiap hari makan siang saya hanya berupa satu atau dua potong roti sandwich.

Nah, dengan pola makan yang demikian, makanan ‘penyelamat’ jadi selalu penting.  Untuk ini saya selalu mengandalkan Pot Noodle.  Semacam pop mie yang bisa dibeli di supermarket seperti Tesco maupun Sainsbury yang tersedia dalam berbagai macam rasa.  Sebetulnya agak menyedihkan.  Sampai jauh di Inggris pun, saya masih jadi korban tak termaafkan dari rekayasa sosial Indomie!

Setelah menghasilkan kesepakatan yang cukup melegakan dalam rapat tahunan kali ini, saya mencoba untuk mencari makanan yang layak.  Bukan mie instan atau pun juga bukan sandwich.

Pilihan saya jatuh pada restoran “The Longwall” yang ada di dekat kantor saya.  Restoran ini mendapat julukan tempat para “Beefeater” karena konon mereka menyajikan daging panggang yang terbaik.

Saya memesan Grilled Sirloin dan jus jeruk segar.

Tak lama setelah memesan, hidangan pilihan pun tersedia.  Tersaji di depan saya sepiring daging panggang dengan kentang goreng dan sayur.   Tanpa gravy, atau saus apa pun.   Janggal rasanya jika makan daging panggang tanpa saus.

Ah, mungkin mereka lupa.

“Excuse me, I wonder whether there is a sauce for the beef?” 

“Oh, I have some mustard and tomato if you like.”

Saya tersenyum sambil menggeleng.  Beginilah rupanya makanan Inggris. 

Posted by: arimgn | April 1, 2008

RM BBT dan Pluralitas Antar Dimensi

Akhir minggu kemarin saya diajak oleh teman saya makan di RM BBT.

Lokasinya di bilangan matraman, persis di sebelah sekolah Marsudirini. Bagi yang bersekolah di sini, tentunya tahu RM BBT. BBT itu singkatan dari Babah Tong. Entah mengapa ia tidak menggunakan nama Babah Tong. Padahal, menurut saya, jika ia kini menggunakan nama itu, nilai jualnya lebih tinggi.

imag0390.jpg

Rumah makan ini menyajikan makanan yang sebetulnya banyak dijual di pinggir jalan: bakmi bakso dan bubur ayam. Namun karena rasanya yang nikmat, banyak mereka yang kembali datang ke rumah makan ini.

Konon si Babah yang dulu memasak langsung dan merintis rumah makan ini dari sebuah tempat kecil disana. “Babah dulu sering marah-marah kalau ada anak-anak berantem di depan warungnya”, kenang teman saya. Ia dulu sekolah di Marsudirini.

Tak lama kemudian pesanan saya datang. Yamien Asin Bihun Baso. Rasanya enak. Gurih.

imag0387.jpg

Rumah makan ini pun tidak banyak berubah. Tetap seperti itu, bercat hijau, dengan meja dan kursi kayu bulat dengan lubang empat di dudukannya. Di atas meja tersaji berbagai macam kerupuk. Karena setiap hari diletakkan di atas keranjang plastik, pembungkus kerupuk ini sering berdebu. Membukanya jadi kadang-kadang harus dengan bantuan tisu untuk membersihkan jari-jari tangan.

imag0385.jpg

Masih otentik. Tetap seperti ini dan tidak banyak berubah.

Babah dan istrinya tekun di belakang meja kasir melayani pelanggan yang tengah membayar. Tidak ada mesin kasir, tidak ada safety deposit box. Istrinya Babah hanya menggunakan kalkulator dagang untuk membantu menghitung jualannya.

“Mbak, toiletnya dimana?”, tanya saya kepada seorang pelayan.

Sambil sibuk membereskan mangkok dan gelas yang sudah kosong, pelayan tersebut menunjuk ke arah belakang warung.

Pemandangan jadi kumuh ketika saya melewati kasir menuju. Di sebelah kanan saya ada seorang yang tengah mencuci mangkok-mangkok dan gelas kotor. Tempat cucinya dibawah. Ini sebetulnya pandangan yang biasa, dan malah kadang-kadang jadi bahan bercandaan saya dan teman-teman.

Teman kuliah saya dari Thailand, pernah suatu ketika tertawa ketika saya bilang rumusan utama dari makanan enak adalah: “the dirtier, the better”. Ia menyetujuinya. Di Thailand juga serupa. Makanan yang enak justru makanan yang berada di pinggir jalan. Yang entah dari mana asalnya, bagaimana mengolahnya, tak tahu bersih atau tidak.

Kalau sudah bicara Thailand, selain makanannya, rasanya yang lekat di ingatan saya itu justru film-film horornya. Hantu di film horor Thailand itu serupa dengan cerita-cerita hantu yang ada di Indonesia. Jadi kita bisa dengan mudah relate dengan filmnya.

Konon di kantor tempat saya bekerja sekarang juga ada hantunya. Ada banyak karyawan yang pernah punya pengalaman

“Waktu itu, gue ngelihat ada orang pake baju putih, rambut panjang terseok-seok naik tangga…”, seorang rekan kerja menceritakan pengalamannya.

“Kalo gue, pernah ngajak ngomong penampakan temen kantor yang ternyata orangnya sebenernya lagi ada di Kupang!”, rekan yang lain menceritakan pengalamannya ketika menyapa selamat pagi pada penampakan yang serupa dengan rekan kantor yang sedang bertugas di luar kota.

Aduh! Kantor saya memang mendukung pluralitas. Bahkan mempromosikan pluralitas. Tapi apa kita sudah siap dengan pluralisme antar dimensi?

Hiii…..

Older Posts »

Categories