Sop Buntut Balado Novotel Bandung

Sudah lama rasanya tidak pergi ke Bandung. Ternyata kota ini sudah lumayan banyak perubahan. Beberapa jalan one way yang berubah cukup membuat saya bingung. Jalanan yang rasanya semakin padat oleh kendaraan juga menjadi karakteristik kota kembang di masa sekarang ini.

Jika berkunjung ke kota ini, saya biasanya selalu mencari makanan khas kota Bandung atau makanan pinggir jalan. Nostalgia dan memanjakan lidah sekaligus.

Namun kunjungan kali ini berbeda. Saya sengaja memesan makanan di hotel di bilangan Cihampelas tempat saya menginap. Memang tidak banyak yang saya lakukan di kota ini pada kunjungan kali ini.

Selain hujan tengah turun, yang membuat saya tidak ingin pergi dan hanya ingin tinggal di kamar, saya juga punya tujuan untuk mencari suasana baru untuk mencari ide dan inspirasi untuk tulisan saya.

Berpikir memang melelahkan, rupanya. Jadi saya cepat lapar. Tanpa menunggu lebih lama lagi saya langsung mengangkat telepon untuk memesan menu istimewa hotel ini. Menu yang sejak di lift sudah saya lirik iklannya.

Mereka menyajikan sup buntut balado. Inovasi baru yang berani menurut saya. Daging buntutnya digoreng dan diolah dengan bumbu balado a la masakan padang.

Rasanya unik tapi enak. Pedasnya memang agak tajam. Layak dicoba dan dinikmati. Harganya pun masih di bawah sup buntut Restoran Bogor di Hotel Borobudur.

Tapi, buat yang tidak suka pedas, jangan coba-coba pesan hidangan ini!

Bisa disengatnya lidah anda.

Rindu Mie-Ayam Kampung

Entah kenapa, tapi saya mendadak sangat ingin makan mie ayam. Bukan sembarang mie ayam, tapi mie ayam kampung. Ya, mie ayam pinggir jalan yang berkualitas rendah dengan pendamping saos merah (sering juga disebut ‘caos’ oleh banyak orang).

Dorongan itu begitu kuat hingga siang tadi saya menelurusi jalan di Margonda, Depok, mencari mie ayam kampung. Ah, ternyata ada! Semacam ‘chain’ rupanya. Karena saya melihat merk dagang yang sama di beberapa gerobak. Kelihatannya pun enak.

Hmm, setelah suapan pertama, ternyata cukup enak. Apalagi setelah dicampur dengan ‘caos’-nya

Kadang-kadang saya berpikir, jangan-jangan yang membuat ketagihan justru racun-racun yang ada di saos merahnya itu. Habis bagaimana? Sejak kecil makannya sudah itu. Sekolah juga itu. Waktu kuliah, mie ayam dan caos lah yang setia menemani disaat kantong kering.

Jadi, biar keracunan, tapi ada aspek nostalgianya nih! *nggak bener ya?

Bangka Belitung Trip #4: Laskar Rajungan di Belitung

Setelah berjuang melawan rasa takut dan mual dalam perjalanan menuju Tanjung pandan, pada sore hari yang cerah itu berlabuh lah kami di pulau Laskar Pelangi ini.

Penjemput dari hotel, yang sudah siap untuk mengantarkan kami ke resor Lor In, melambai-lambaikan papan nama dari ujung dermaga untuk menarik perhatian kami.

Jauh-jauh hari sebelum berangkat, ayah saya mengingatkan tentang aspek kesohor pulau Belitung selain cerita Laskar Pelangi. Yaitu Rajungan! Pulau ini terkenal dengan Rajungan yang melimpah. Rajungan adalah sejenis kepiting laut (Portunus pelagicus) yang dagingnya lembut. Ia banyak diekspor untuk konsumsi di luar negeri, dan disana dikenal dengan nama blue crab atau flower crab.

Rajungan berbeda dengan kepiting bakau (Scylla serrata) yang banyak dikonsumsi di Indonesia.

Sejak kecil keluarga saya memang penikmat rajungan. Bahkan, perkenalan saya dengan jenis kepiting-kepitingan ini adalah melalui rajungan. Biasanya, di hari minggu pagi, Ibu mengukus rajungan segar dengan arang (untuk menghilangkan racun) lalu kami sekeluarga menyantapnya dengan kecap manis dan cabai rawit. Lezat sekali.

Kasak kusuk kesana kemari @arimargiono, @shillach, dan @dody_rochadi akhirnya mendapati Restoran Pribumi yang menyajikan hidangan rajungan yang sudah dibuat perkedel.

IMG_7351

Perkedel rajungan? Ini makanan yang hanya saya temui di rumah nenek saya dahulu. Tidak pernah ada di tempat lain, apalagi di restoran. Seumur hidup saya, nggak pernah makan perkedel rajungan di luar rumah eyang. Eyang putri memang dulu sering membuat perkedel rajungan yang unik. Daging rajungan yang telah diolah diletakkan di atas cangkang penutup rajungan dan kemudian digoreng. Ahh, nikmat sekali jika dimakan dengan nasi putih hangat.

IMG_7353

Untuk sesaat, saya merasa de javu di restoran Pribumi.

Kalap, saya menyantap banyak sekali perkedel rajungan ini. Bahkan, saya pun memesan untuk dibungkus sebanyak 50 buah untuk di bawa ke Jakarta sebagai buah tangan untuk ayah dan keluarga.

Dengan pemilik restoran, kami bercakap-cakap tentang rajungan. Ternyata, rajungan sekarang sulit di dapat di pasar. Karena lebih banyak di ekspor daripada untuk konsumsi dalam negeri. Harganya cukup bagus untuk ekspor, katanya.

Tak heran, jika saya mencari rajungan yang besar-besar, biasanya harus di supermarket barang impor Ranch Market. Jangan-jangan diekspor dari Belitung, lalu diimpor oleh supermarket ini? Jika benar, ya keterlaluan.

Perjalanan di Belitung menjadi begitu menyenangkan. Apalagi ditambah dengan sesi foto-foto di pinggir pantai yang begitu indahnya!

IMG_7400IMG_7515

Belitung, I will be back!

Bangka Belitung Trip #3: Seafood dan Mabuk Laut

Karena usil, kami akhirnya memutuskan untuk mencoba menggunakan jetfoil untuk menyeberang ke Pulau Belitung dari Pangkalpinang. Alternatif penyeberangan antar pulau ini memang terbatas. Ada penerbangan antara Pangkalpinang dengan Tanjungpandan menggunakan Riau Airlines. Namun tidak setiap hari. Itu pun, konon, hanya dapat memuat 50 penumpang sekali terbang.

Alhasil, banyak yang memilih untuk menggunakan jetfoil atau, untuk beberapa orang, lebih memilih transit ke Jakarta.

Siang itu, dengan riang gembira kami pergi ke pelabuhan untuk menaiki jetfoil. Di benak saya, pengalaman yang sangat baik menggunakan kapal ‘ferry’ Stenaline dari Harwich ke Amsterdam membuat saya begitu antusias untuk menggunakan jasa transportasi laut satu ini. Saya juga mendengar dari beberapa kawan, bahwa jetfoil Bangka Belitung lumayan bagus.

IMG_7338

Saat makan siang di sebuah restoran seafood terkenal di Pangkalpinang, iseng-iseng saya browse di internet tentang jetfoil ini. Ternyata berita yang mendominasi adalah karamnya jetfoil ini di perairan Bangka.

Duh, jantung saya berdegup kencang. Segera saya memberitahu @shillach dan @dody_rochadi. Perhatian kami teralih dari kepiting lezat yang tengah disantap.

IMG_7201

Sup perut ikan yang sangat segar dan ikan ayam-ayam bakar lezat pun jadi terbengkalai.

IMG_7199IMG_7200

Nah lo.

Saat tiba di pelabuhan hati kami sedikit terhibur melihat kapal jetfoil Ekspres Bahari yang ternyata bagus dan terlihat baru. Interior di kabin VIP pun juga sangat memadai: AC yang dingin, tempat duduk yang nyaman. Ini belum menyebut layar lebar di depan kabin yang memutar film hollywood. Intinya, @arimargiono, @shillch, dan @dody_rochadi betul-betul puas dan bahagia dengan kabin VIP-nya. Hilang ingatan kami tentang liputan kapal Ekspres Bahari yang karam beberapa waktu yang lalu.

IMG_7342IMG_7344

Satu jam pertama dari perjalanan diwarnai dengan canda, tawa, dan ajakan @shillach untuk berfoto-foto di dek luar. Namun karena film Transformers tengah diputar, kami memutuskan untuk menunda sesi foto-foto di dek kapal.

Memasuki jam kedua dari perjalanan, kapal mulai terasa oleng. Ombak terasa semakin besar. Banyak penumpang mulai berwajah pucat karena mual. Kami juga pucat. Mual dan khawatir. Ingatan liputan kapal yang karam kembali muncul di benak kami.

Tiga jam lamanya kami terombang-ambing. Perut seperti dikocok-kocok. Kepala sangat pusing rasanya. @shillach duduk menutup mata sambil menggengam tangan @dody_rochadi erat-erat. @arimargiono berjalan ke dek dengan harapan dapat menghilangkan pusing. Alhasil saya malah muntah-muntah di toilet.

Tidak ada sesi foto-foto. Semua duduk menutup mata, mencengkram sandaran kursi dan berjuang melawan pusing, mual, dan takut.

Susana kemudian menjadi lebih tenang ketika kapal mendekat pelabuhan Tanjung Pandan. Ketika jetfoil Ekspres Bahari berlabuh, rasa lega bercampur dengan lelah dan lemas membalut kami semua.

Pulau Belitung, here we are …..

Bangka-Belitung Trip #2: Pempek dan Otak-otak Bangka

Adalah dosa besar jika pergi ke Bangka tanpa mencicipi pempek dan otak-otak khas Bangka.  Kota Pangkalpinang memang terkenal dengan pempek dan otak-otaknya yang berbeda dengan sajian yang ada di Palembang.  @inistephanie, yang asli Pulau Bangka, mengklaim bahwa orang Palembang lah yang sebenarnya mencuri pempek dan otak-otak dari Pulau Bangka.

Betul kah?  Ini menarik.  Persis seperti saling klaim budaya yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia.

Namun darimana pun asalnya, dan siapa pun yang memulainya, kenyataannya adalah pempek dan otak-otak khas Pangkalpinang ini sudah tersaji di depan kami.

IMG_7158

Ah, ternyata bedanya justru di sausnya.  Tidak ada saus cuka di Pempek Bangka.  Tapi justru ada saus sambalnya.  Ada tiga macam yang disajikan.  Saus sambal asam, saus sambal biasa, dan saus sambal terasi dengan jeruk.  Yang terakhir ini yang saya paling suka.

IMG_7160

Rasa saus sambalnya benar-benar unik.  Lagi-lagi ia menggunakan jeruk kunci khas Pulau Bangka.  Rasanya jadi campuran pedas, asam, dengan aroma terasi udang khas yang tiada duanya.

IMG_7168IMG_7163

Otak-otaknya pun dinikmati dengan sambal ini.  Jadi tinggal celup dan nyam, nyam!

Pemilik restoran yang kami datangi ini benar-benar sangat ramah.  Walaupun terlalu pagi, ternyata kami diijinkan untuk menikmati nikmatnya makanan khas Pangkal Pinang ini.  Ia tahu kami datang jauh dari Jakarta dan ingin menikmati lezatnya olahan ikan yang satu ini.  Kami pun menyempatkan untuk bercakap-cakap dengannya.  Konon, di hari yang sibuk, ia bisa menyajikan lebih dari 7,000 otak-otak setiap harinya!

IMG_7167

Luar biasa.