Sinar Garut – Asli!

Hayo, siapa yang suka nyabu? Yang ketagihan nyabu Sinar Garut? Saya salah satunya.

Sering sekali pagi saat berangkat ke kantor saya berhenti di pinggir jalan Margonda, di seberang RSU Bunda Margonda, untuk menyantap semangkuk Bubur Ati Ampela yang gurih dan lezat sajian Sinar Garut.

20120107-111324.jpg

Porsinya pas, tidak terlalu banyak, tapi tidak juga terlalu sedikit. Yang khas dari sajian bubur ini adalah topping cheese stick-nya. Sudah barang tentu ini bukan keju asli, namun kombinasinya dengan bubur terasa nikmat.

20120107-111613.jpg

Pertama kali saya mencoba chain bubur Sinar Garut ini adalah di Jl. Taman Margasatwa. Tempatnya di pinggir jalan, dekat Wisma Tani. Yang lainnya rupanya cabangnya. Tak kalah enaknya, rupanya pemiliknya bisa mempertahankan kualitasnya di masing-masing gerai pinggir jalannya.

Ikan Bakar Kalimantan Yang Unik

Bukan, ini bukan di Kalimantan. Tapi di Cimanggis, Bogor. Konon ini hidangan ikan khas dari Kalimantan yang sudah kesohor lama. Dan, restoran ikan bakar patin ini memang berbeda dari yang lain yang pernah ada. Restoran ini menyajikan ikan patin seuukuran lengan orang dewasa yang dibakar di dalam bambu hijau dan diberi bumbu merah yang gurih dan menggugah selera. Ya, dibakar khusus di dalam bambu hijau.

20111228-193025.jpg

Untuk mencapai restoran ini, anda harus menempuh perjalanan melalui tol Jagorawi. Tidak jauh dari pintu keluar Cimanggis, Restoran Ikan Bakar Kalimantan ini tidak terlalu sulit untuk dicari. Tanyakan dengan penduduk sekitar, mereka pun bisa menunjukkan arahnya. Katanya, hidangan ini sudah cukup lama disajikan di daerah Cimanggis ini. Malah, restoran ini konon berawal dari sebuah kedai kecil disini.

Rupanya, ketika saya datang di Minggu sore itu, restoran ini sudah penuh dan banyak pengunjung yang tengah menantikan pesanannya. Kalang kabut para pramusaji melayani permintaan pengunjung. Lalu lalang mereka dari satu meja ke meja yang lain. Saya sendiri harus menunggu sekitar 30 menit untuk mendapatkan hidangan yang dipesan.

20111228-193333.jpg

Ketika hidangan yang dipesan tiba, hampir lupa semua penantian dan kekesalan yang pernah ada. Bahkan, hampir dibuat tercengang saya melihat bambu hijau besar gosong yang terbelah dua dengan ikan patin berbumbu merah yang disajikan di meja makan. Penggunaan bambu hijau pun bukan tak disengaja. Kabarnya, bambu hijau bisa mempertahankan suhu ruang dalam yang pas untuk kematangan ikannya.

Karena masih hangat, aroma harum dan gurih tercium dari hidangan ikan bakar patin ini.

Tanpa pikir panjang … Sikaaat!

20111228-193723.jpg

Nikmatnya Soto Sarodja

Sedang ada di seputaran Benhil? Jangan lupa mampir di Soto Sarodja di jalan Danau Tondano. Konon, kedai soto ini ada sejak tahun 1970an.

Soto dan Baso Sarodja ini memang rasanya unik dan lezat. Selain daging yang disajikan berbongkah-bongkah, kita juga bisa memesan topping baso yang enak.

20111228-123044.jpg

Nah, nama seroja ini memang mengundang pertanyaan, apakah memang ada hubungannya dengan operasi seroja di Timor Leste di tahun 1970an? Apakah pemiliknya seorang purnawirawan? Entah lah. Apapun latar belakangnya, soto mie yang disajikan disini memang layak cicip.

Tunggu apa lagi? Ayo segera ke benhil!

20111228-121416.jpg

Marutama Ramen

Apa yang kita lakukan jika sudah mulai bosan dengan makan siang kantor yang itu-itu saja?  Eksplorasi tempat baru, jawabnya.  Nah, mumpung masih suasana lebaran, rekan-rekan di @mavtweets hari Jumat kemarin eksplorasi tempat makan baru.  Kompornya ya si @ineedini yang konon lagi kepengen banget makan ramen.  Sejak pagi, ia bolak-balik promosi tentang tempat makan ramen jepang yang ada di gedung perkantoran Plasa Senayan ini.  Sampai-sampai bilang katanya kuahnya mengandung kolagen yang dapat membuat wajah awet muda.

Hah?

Ya, konon katanya mereka memasak kuahnya selama berjam-jam sehingga jadi kental dan entah bagaimana prosesnya, katanya mengandung kolagen yang menyehatkan kulit.

Karena penasaran, saya pun ikut pergi makan siang ke Marutama Ramen.

Saya pesan ramen ayam.  Enak sekali.  Kuahnya memang betul kental dan sangat lezat.  Saya yang cukup sensitif dengan lemak dan daging, bisa melenggang santai keluar dari restoran ini tanpa ada rasa berat di pundak.  Wah, pokoknya nggak bisa digambarkan deh rasanya.  Enak sekali.  Buat saya, Marutama lebih enak dari ramen ‘tetangga berwarna merah’ yang kesohor.

Mie-nya pun enak.  Lembut, tapi renyah dan ‘kering’.

Konon, kata Ramen itu sendiri merupakan penyebutan atas hidangan serupa, La Mien, yang berasal dari Cina.  Kabarnya, makanan ini sudah ada di Cina lebih dari 4000 tahun yang lalu, dan dibawa ke Jepang saat negara ini membuka diri melalui Restorasi Meiji di abad 19.   Yang menarik adalah, ramen di Jepang ini yang mendorong terciptanya mie instan yang merajalela di dunia saat ini.

Rupanya, yang jadi signature di Marutama adalah Tamago.  Telur yang direbus setengah matang dan diberi bumbu ini luar biasa lezatnya.  Ini unik sekali.  Kuning telur tersebut masih lembut dan lezat!   Tidak ada amisnya samasekali meskipun ia baru setengah matang direbusnya.

Kuah ramen biasanya dibuat dari kaldu ayam atau babi yang kental sehingga rasa gurih terjaga dengan baik.  Nah! Ini dia tantangannya, karena kaldu babi sering dianggap lebih enak, banyak restoran ramen yang menyajikan hidangan lezat ini tidak halal.

Marutama Ramen, konon, membuat kuahnya dari kaldu ayam.  Mereka pun, katanya, membedakan perangkat yang dipergunakan untuk mengolah hidangan babi dan non-babi.

Betul kah?  Wallahu alam bi sawab …

Bubur Ayam Berdikari

“Makan bubur kok malem-malem!”‘, komentar teman saya ketika diajak makan bubur sekitar jam 7 malam. Rupanya di benak banyak orang, bubur itu cocoknya dimakan pagi hari sebagai sarapan atau tengah malam sebagai hidangan supper.

Teman saya yang lain selalu menolak jika diajak makan bubur. Ia punya pandangan lain. Makanan orang sakit, katanya.

Sebaliknya, saya suka bubur. Saya bahkan suka bubur yang disajikan dengan topping yang unik atau disajikan dengan cara yang menarik. Di beberapa posting sebelumnya saya pernah mengulas bubur ubur-ubur yang disajikan setiap minggu pagi di GOR Padjadjaran di Bandung yang lezat.

Nah, malam ini saya diajak untuk mencoba bubur yang lezat. Lokasinya ada di seputar Cipinang Jaya. Jika anda berjalan dari arah Casanlanca menuju Duren Sawit, setelah Pasar Gombrong ambil jalan sebelah kiri ke arah Penjara Cipinang. Bubur lezat ini ada di sebelah kanan.

Namanya Bubur Ayam Berdikari Cabang “Nusantara’. Usut punya usut, ternyata ini adalah kelanjutan dari kedai bubur ayam yang pernah saya makan di sekitar Bioskop Nusantara 21 saat saya sekolah dulu di bilangan Jatinegara. Dahulu sang ayah yang menjalankan usaha bubur ayam ini. Kini dilanjutkan oleh anaknya.

Bubur Ayam Berdikari adalah salah satu bubur yang masuk dalam kategori bubur sop. Konon bubur sop berasal dari Cirebon. Tapi yang menarik, keluarga pengusaha bubur ayam ini rupanya keturunan Betawi totok.

Penyajian bubur sop pada umumnya adalah seperti bubur ayam lainnya, namun ditambahkan kuah kaldu – yang biasanya juga dilengkapi kari atau kunyit – hingga memenuhi mangkuk bubur yang disajikan. Topping ayam, krupuk, dan kacang kedelai biasanya baru ditambahkan kemudian. Jika berkenan, kita bisa memilih tambahan berupa paru goreng atau ati ampela.

Tidak semua orang suka bubur sop karena mungkin sulit membayangkan ia harus makan bubur yang berkuah. Namun keluarga kami suka sekali. Terutama bubur sop yang disajikan di warung Bubur Ayam Berdikari.

Tunggu apa lagi? Ayo meluncur!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.